Spirit Indonesia

Lulus SMP Jadi Menteri Kelautan Dan Perikanan

Kabinet Kerja Jokowi benar-benar sangat fenomenal, betapa tidak ?!!! Seorang lulusan SMP bisa menjadi Menteri Negara, dimana harapan masyarakat dan bangsa berada dipundak wanita patriot ini.

Siapakah dia?

Sosok perempuan ini mendadak jadi sorotan publik, setelah Presiden Jokowi kepicut mengangkat Susi menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Mungkin sudah banyak media membahas gayanya yang eksentrik dan nyentrik. Banyak sisi menarik dalam kehidupan pendiri maskapai penerbangan daerah-daerah perintis, Susi Air ini yang sangat inspiratif bagi kita.

Berikut profil Susi Pudjiastutui, yang patut kita ketahui.

“Jangan pernah berpikir bahwa dunia akan memberimu tempat istimewa karena kamu seorang perempuan!”

Kisah Menteri Nyentrik Susi: Jual Bed Cover, Bawa Orang Gila
Susi duduk di pojok tepian boot Rolls Royce di Singapore Air Show 2010

Kisah ini berasal dari pantai Pangandaran. Bahkan mungkin juga akan berakhir di Pangandaran.

Seorang anak kecil suka berdiri di sana. Matanya memandang lepas ke lautan. Membayangkan dirinya menjadi seorang ahli kelautan suatu saat. Memiliki kapal selam agar bisa menyelidiki sendiri rahasia di kedalaman.

Kini perempuan itu sudah dewasa. Ia tumbuh dalam terpaan angin dan udara lautan. Itu yang membuatnya terlihat lebih matang dan perkasa. Meski demikian, tak ada yang berubah dari penampilannya. Masih tetap dengan rambut ikal yang kadang membuatnya terlihat sensual. Masih suka memandang lautan. Tapi ia bukanlah ahli kelautan seperti cita-citanya. Ia lah penguasa hasil laut dengan teknologi termodern di Indonesia yang kini beranjak ingin menguasai udara. Perempuan yang sudah berdaya itu bernama Susi Pudjiastuti.


Pada satu hari menjelang pergantian tahun lalu, ia akhirnya menemui dewi. Rencana pertemuan ini sendiri sesungguhnya sudah berlangsung beberapa bulan sebelumnya. Namun ia sadar bahwa kegiatannya yang teramat padat belakangan membuat ia agak sulit untuk menuju Jakarta untuk sebuah pertemuan sepanjang berjam-jam. Maklumlah, ia harus menjadi nahkoda untuk dua perusahaan besarnya: PT ASI Pudjiastuti Marine Product (bisnis hasil laut), serta PT ASI Pudjiastuti Aviation dengan merek Susi Air, bisnis pesawat carteran. Untuk itulah pertemuan ini dilakukan di Pangandaran, agar ia bisa mengontrol semua bisnisnya setiap saat (dan memang itulah yang dilakukannya). Sebuah pesawat terbang kecil ia siapkan untuk menjemput dan mengantar dewi kembali ke Jakarta.

“Kupikir yang kupunya hanyalah kebebasan,” katanya, menceritakan rahasia kesuksesannya. Suaranya terdengar berat yang menjadi karakternya menjadikan setiap kata-kata yang terucap terasa begitu tegas dan dalam. Sorot matanya tajam. Pernyataan yang dilontarkan pun tentunya agak sulit dilahirkan dari bibir perempuan Jawa konservatif. Tapi begitulah kenyataannya. Kini ia bebas untuk melakukan banyak hal yang disukai. Berkeliling dunia. Cerewet soal lingkungan- dan didengarkan orang. Membawa obat-obatan ke berbagai pedalaman di Indonesia. Ia juga akan mengikuti training helikopter di Amerika bulan ini. “Supaya saya tak tergantung lagi dengan pilot kalau saya mau pergi,” katanya.

Penghargaan Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Young Entrepreneur of The Year 2005 dari lembaga keuangan Ernst & Young, Penghargaan Primaniarta sebagai UKM ekspor terbaik tahun 2005 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta Indonesia Berprestasi Award 2009 dari PT Exelcomindo yang diterima kian memperpanjang jadwal pekerjaannya. Kali ini sebagai pembicara untuk bidang motivasi dan kepemimpinan. Apalagi ia juga Ketua Umum bidang Unit Kerja Masyarakat Kecil (UMKM) di Kamar Dagang (Kadin) Indonesia.

Belakangan ini, namanya terus disebut-sebut. Keberaniannya dalam membuka rute-rute penerbangan di daerah pedalaman yang –awalnya- dianggap sebagai rute-rute tidak popular dipuji banyak kalangan. Efek postifnya, pembukaan rute ini memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan dan pembangunan daerah pedalaman di Indonesia- sesuatu yang semestinya menjadi pe-er pemerintah Indonesia. Selama ini, bilapun ada, rute tersebut diisi dengan penerbangan dengan pesawat-pesawat lama – karena dianggap tidak menghasilkan untung besar.Tapi mata cerdas Susi justru melihat bahwa pasar yang kosong inilah yang seharusnya diisi. Dan itulah yang terbukti.

Hanya dalam waktu lima tahun setelah mendirikan perusahaan aviasinya, ia mampu mengibarkan bendera Susi Air di Sumatera, Papua, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. Puluhan pesawat baru dan pilot dari 28 negara didatangkan untuk melayani kebutuhan ini. Tahun depan, ia sudah mempersiapkan pembukaan rute-rute baru lagi. Ia juga akan membuka sekolah penerbangan bulan April ini sebagai antisipasi kebutuhan pilot yang terus melonjak. Lagi-lagi, lokasinya di Pangandaran. “Saya menyiapkan beasiswa untuk 10 putra terbaik Indonesia.”

Bila diibaratkan kini di usianya yang ke empat puluh lima adalah angsa putih dengan bulu-bulunya yang memukau, semua mata memandangnya dan terpikat, tidakkah mereka ingat bahwa ia-lah dulu “si itik buruk rupa”?

“Dari dulu, saya ini sudah dianggap the outsider,” katanya. Suara tokek dan derik binatang di kejauhan memecahkan keheningan malam. Dua botol white wine dan tonik, serta sebungkus rokok menjadi teman intimnya bercerita. Membuka memori yang mengendap di pikirannya. Tato burung merak menghiasi tungkai kaki kanannya. “Orang bilang saya ini suka bikin pusing sendiri,” lanjutnya. Waktu kecil, ia suka membawa orang gila yang ditemui di jalan untuk dimandikan di rumahnya dan diberi baju.

Seringkali ia pergi ke kampung-kampung nelayan. Bila ada yang luka, ia tak segan untuk membasuhnya dan memberinya obat. “Padahal sama istrinya sendiri nggak mau diobatin. Ha ha ha.. makanya saya ini selalu dianggap orang gila,”ia tertawa. (kelak empati itulah yang berguna baginya ketika terjun di dunia yang sama dengan para nelayan.)

Namun keputusannya yang dianggap paling “gila” adalah ketika ia keluar dari sekolah waktu duduk di bangku kelas dua SMA. Semua orang marah padanya. Padahal ia anak pandai. Hampir selalu dapat peringkat pertama di sekolah, makanya dikirimlah ia ke sekolah terbaik di Yogyakarta. Orang tuanya kaya. Ayahnya kontraktor bangunan. Ibunya tuan tanah dan petani perkebunan dan kelapa. Lalu kenapa?
“Saya merasa nggak happy saja. Untuk apa saya lanjutkan? Ini hidup saya. Saya ingin memutuskan sendiri hidup saya,” sulung dari tiga bersaudara ini menjelaskan alasannya. Usianya 17 tahun ketika itu. Masih muda. ia kembali ke rumahnya. Ayahnya yang selama ini memanjakannya dan membebaskannya membeli buku-buku menjadi amat marah. Hampir dua tahun, keduanya tak saling bertegur sapa. “Jadi saya kerja saja, biar nggak jenuh di rumah,”katanya ringan. Pekerjaan awalnya: menjual bed cover dari pintu ke pintu. “Saya bersyukur dibesarkan kedua orang tua yang sangat democrat. Mereka tidak menanamkan rasa malu bila melakukan suatu pekerjaan yang memang halal,” ujarnya.

Lalu suatu kali, ia jatuh cinta pada seorang lelaki. Terlebih, ia jatuh cinta pada profesinya sebagai pengepul ikan. Kedekatan dengan dunia nelayan di masa lalu menjadi pemicunya untuk mencoba belajar menjadi pengepul ikan, bersama lelaki yang akhirnya menjadi suaminya. Ketika bisnisnya mulai merangkak naik, ia mendirikan perusahan sendiri. saying perkawinan itu tak berlangsung lama. Ia memilih berpisah dan menghidupi anak lelakinya, Panji Hilmansyah. Tapi ia masih tetap jatuh cinta dengan profesinya sebagai pengepul ikan dan meneruskan usahanya sendiri. Pindah ke kota lain. Tapi hasil laut tak selalu bagus sepanjang tahun. Ia harus mencari celah supaya asap dapurnya terus mengepul. Maka ia sempat berdagang katak dan kulit ular yang dikerjakannya sendiri- termasuk memilih dan mengukur ular ketika masih hidup, mendatangi suplier-suplier dari satu kota ke kota lain, mengangkutnya dengan truk, dan membawanya ke Jakarta. Daya tahan perjuangannya lebih digdaya ketimbang rasa takutnya.

“Kadang saya tak membayangkan bagaimana hidup saya waktu itu. Setiap hari berada di pantai utara Jawa, berhubungan dengan banyak manusia, apalagi kerjanya malam. Siang malah tidur siang,” ia tertawa, mengenang “dunia remang-remang” yang begitu dekat dengannya kala itu. Habis bagaimana lagi, dulu saya mau beliin susu untuk anak saya kadang nggak punya uang,”ungkapnya getir. Begitulah ia bertahan dan bekerja keras dalam bidang yang banyak didominasi oleh kaum lelaki. Persaingan yang ada sangat keras dan acapkali kejam. Pernah dalam suatu masa ia ditipu salah satu kliennya, ditinggalkan dalam belitan hutang yang mengakibatkan ia yang waktu itu sudah jadi pengekspor ikan sukses, harus kembali lagi sebagai pemain lokal. Yah, begitulah, pelajaran kehidupan memang kadang teramat mahal dan pahit.
Tapi, ia selalu optimis. Dunia bisnis, katanya, selalu memberikan kepastian: kesuksesan atau kegagalan. Dan ia selalu memilih untuk mencari jalan untuk menuju yang pertama. Salah satunya juga ditempuh melalui konsistensinya dalam membangun reputasi sebagai pemasok produk yang terbaik. Itu sebabnya, ia mendapatkan Red Clause LC (Letter of Credit) dari Jepang, justru ketika terjadi pada masa kebijakan uang ketat akibat krisis ekonomi yang melanda dunia. Karena pinjaman itu tak cukup, ia berani mengambil risiko untuk menjual rumah dan sejumlah mobil-mobilnya, demi membayar satu kontainer hasil lautnya untuk dikirim ke Jepang. Jungle Fighter ini, untuk mengambil istilah dari ilmu ekonomi, percaya bahwa kegagalan semakin membuatnya kuat, karena ia harus mencari strategi baru.

Ia rupanya orang yang berpikir cepat dan belajar dari pengalaman. Bahwa hidup dan bisnis adalah sebuah rimba yang harus ditaklukkan. Siapa yang tak berdaya ia akan binasa. Itu sebabnya ia nekat membeli pesawat untuk mengangkut hasil produknya. Kemandirian-lah yang membuat ia “nekat” untuk melakukan segala sesuatu yang sekiranya dapat melancarkan bisnisnya. Namun siapa sangka, pesawat angkut ikan ini kemudian menginspirasinya untuk membuka peluang di bidang pesawat carteran – sebuah peluang bisnis yang masih kosong di Indonesia. Hanya lima tahun, ia memulainya di tahun 2004, kini puluhan pesawat baru sudah berada di dalam genggaman tangannya. Bakul ikan itu kini sudah merangkap menjadi juragan pesawat. Waktu sepanjang 27 tahun telah mematangkan jiwanya.

“Kami ini tumbuh organic, tidak didukung oleh finansial yang besar, sumber daya yang luar biasa, latar belakang bisnis pun saya tak ada. Padahal waktu saya buka Susi Air di Medan dulu, kami cuma 6 orang. Saya sendiri yang menjadi kasir. Saya loading sendiri,”kata Susi yang hanya mau berbisnis yang sesuai dengan idealismenya sendiri, selain sesuai panggilan nurani. Ini tegas dikatakannya.

Ia percaya bila ia melakukan bisnis dengan hati, tulus, maka akan tumbuh cinta dan simpati dari banyak orang. Soal ini, ia pernah dibebaskan dari tuntutan hingga puluhan ribu dollar. “Ketika itu saya dikomplain pelanggan saya di Jepang yang sudah tujuh tahun karena ada produk yang rusak. Lalu saya mengundang mereka untuk datang ke rumah saya, menengok pabrik saya, dan mengisahkan bagaimana saat itu ada musibah yang mengakibatkan listrik mati. Saya minta maaf dan sudah siapkan uang penggantinya. Tapi, ketika ia melihat sendiri kenyataan yang terjadi di pasar, ia membatalkan tuntutan itu,” ia tersenyum, menikmati setiap hisapan rokoknya. “Dunia tidak kejam kok. Saya percaya. Yang penting kita harus jujur, kerja keras, menepati apa yang sudah kita janjikan.’

Kalau kita sudah disayang, disukai, dibutuhkan orang sekeliling kita, inilah garansi keberlangsungan bisnis kita. Kuncinya menepati janji. Saya serius dalam menjalankan bisnis saya. Saya berikan selalu yang terbaik. Kalau tidak melakukan hal itu, maka posisi kita akan ditempati orang lain,” ungkap Susi yang perusahaannya akhirnya dijadikan iklan sebuah perusahaan penyedia mesin pesawat di Kanada. Tahun ini, ia juga diundang untuk berbicara mengenai kepemimpinan dan motivasi kepada sekitar 5000 karyawan perusahaan penyedia mesin pesawat tersebut. “Sekarang saya merasa lebih senang, karena pembicaraan saya mulai didengarkan orang. Saya bisa lebih bisa banyak membantu orang lain,” ujarnya.

Mendengar kisah hidupnya yang pasang surut seperti gelombang, seperti apakah lelaki yang sanggup menjadi sahabatnya dalam segala suasana? “Hidup hanya sebentar, saya tak mau kehilangan waktu saya. Saya katakan, apabila dia tidak bisa memperlakukan dengan baik pada saya, maka akan ada orang lain menggantikan tempatnya,” tukasnya, mengutip sebuah prinsip yang dilakukannya dalam bisnis. Kini, hanya ada Christian von Strombeck, pilot pesawat carteran asal Jerman yang sembilan tahun lebih muda darinya, sekaligus suami ketiga yang juga menjadi patnernya dalam bisnis aviasi. “Ia smart, bisa mengimbangi saya, nyambung. Untuk bertahan memang tidak mudah karena kami beda kultur, beda budaya, dan pengalaman, tapi kami sudah bertahan dalam 10 tahun terakhir,”ungkap ibu tiga anak dari Panji Hilmansyah, Nadin Pascale, dan Alvy Xavier.

“Namun bila ada masalah dan saya harus memilih antara keluarga dan bisnis, maka saya akan memilih bisnis. Saya pasti akan memperjuangkan keutuhan keluarga, tapi bisnis adalah untuk keluarga. bila saya kehilangan pekerjaan, saya pasti kehilangan keluarga. maka saya memilih bertahan untuk bisnis saya.” Mungkin karena ia beranggapan bahwa bisnis adalah sebuah amanah, harus memberikan manfaat kepada banyak orang yang tergantung padanya. Sejak tahun 2000 lalu, ia sudah membuat testamen yang mengatakan bahwa kelak anak-anaknya tidak mewarisi seluruh perusahaannya, melainkan devidennya sebanyak 20%. Setelah pensiun, ia akan menyerahkan perusahaan kepada Yayasan Kaji Ireng yang dibangunnya untuk kepentingan masyarakat, dan menyerahkan pengelolaannya kepada managemen professional.

“Jangan pernah membayangkan bahwa kebahagiaan saya karena saya memiliki puluhan pesawat. Bukan. Kebahagiaan saya adalah ketika saya bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain,” ujarnya seolah mengingatkan pada kisah orang-orang yang pernah ditolongnya, atau ketika ia menerbangkan ibu-ibu yang tinggal di dekat bandaranya agar mereka merasakan sebuah keajaiban. “Melihat matanya berbinar-binar, itu sebuah keajaiban yang tak bisa diungkapkan dalam kata-kata,”ungkapnya dengan mata berbinar juga. Kisah neneknya, istri Kaji Ireng, yang namanya diambil untuk nama yayasannya begitu menggoda. Setelah pensiun, ia ingin meniru jejaknya, mengabdikan dirinya penuh pada Tuhan, tinggal di masjid yang dibangunnya sendiri, dan membantu masyarakat sekelilingnya.

Maka suatu kelak bila Anda mendengar suatu cerita mengenai seorang perempuan tua, berambut ikal, sendirian, menepi, dan menghabiskan hari di sebuah masjid di Pangandaran, barangkali ia adalah Susi Pudjiastuti.

(Sumber : Blog Rustika Herlambang)
Continue lendo

Hobi Blusukan Jadi Uang

Hobi, apa pun itu jenisnya, bila ditekuni pasti akan bermanfaat suatu saat, termasuk untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis. Hobi traveling yang dilakoni Muhammad Irfan Yusuf (33) Sejak SMA ternyata menjadi ladang penghidupan bagi lelaki asal Jogja ini.

Irfan, sekarang ini menjalankan bisnis trip organizer di bawah bendera Java Paradise dengan pelanggan yang sebagian besar adalah wisatawan mancanegara.

"Sekitar 70% konsumen kami adalah wisatawan mancanegara. Mereka memang biasanya kalau ingin berkunjung ke Indonesia mencari trip organizer. Sudah menjadi kebiasaan mereka sebelum melakukan perjalanan sudah memastikan semuanya oke. Karakternya berbeda dengan wisatawan nusantara yang cenderung go show,” kata Irfan seperti dikutip dari myoyeah.

Irfan sudah cukup lama menjalankan usaha ini, sejak 2008. Awal mula usaha ini adalah kegemarannya melakukan trip dan kegiatan outdoors. Dari para penghobi trip ini kemudian terbentuk komunitas dunia maya di mailing list dan blog.

Dari situlah terbentuk jaringan pertemanan dan beberapa teman dari luar kota yang datang ke Jogja minta ditemani untuk jalan-jalan model blusukan. Dari situlah awal mula untuk menseriusi hobinya menjadi sebuah usaha.

Pertemanan adalah kunci awal Irfan mendapatkan pelanggan, termasuk pelanggan dari mancanegara. Ia masih ingat benar bagaimana mendapatkan pelanggan pertama dari Thailand. Seorang teman memintanya untuk menemani tamu dari Thailand yang ingin berziarah ke Borobudur. Itu pengalaman pertamanya menjadi trip guide bagi tamu mancanegara.

Dari situlah Irfan semakin menyadari bahwa bisnis ini mempunyai prospek menarik. Dia pun kemudian menyeriusi usaha ini dengan memberi nama usahanya Java Paradise. Pemilihan nama ini berdasar keindahan Pulau Jawa yang sudah termasyur sejak dahulu.

Menurut Irfan, alam dan budaya Jawa adalah sepenggal surga yang ada di bumi dan itu harus dikenalkan ke khalayak, khususnya orang Indonesia.

Blusukan ke daerah-daerah di Nusantara adalah paket trip yang ditawarkan Java Paradise. Paket trip ini berbeda dengan umumnya travel agent yang biasanya memberikan paket wisata di tempat populer dan biasanya pelanggan tidak bisa menawar tujuan wisata yang diinginkan. Jadi kalau paketnya di Borobudur, Prambanan, dan Keraton Jogja, maka ya tempat itu yang bisa dikunjungi, atau tidak bisa ke tempat lain.

Paket trip yang ditawarkan Irfan memberi kebebasan kepada para pelancong. Para pelancong bisa ikut berdiskusi dan meminta tujuan trip yang diinginkan. Jadi pelanggan bisa menentukan tujuan wisata sesuai dengan budget dan waktu yang mereka miliki. Irfan akan memberikan masukan tentang tujuan wisata yang diinginkan, termasuk dengan estimasi waktu dan biaya yang dibutuhkan.

Ia menyebutkan hubungan yang terjalin antara dirinya dengan pelanggan sering berakhir dengan status teman baru, bukan lagi pelanggan dan penyedia jasa. Hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan ini yang kadang memberi kepuasan tersendiri. Bahkan Irfan merasa sering mendapat pelajaran yang seringkali nilainya lebih dari sekadar uang.

“Pernah ada konsumen dari Belanda mencari tempat neneknya dimakamkan. Dia datang bersama cucunya. Pernah juga ada dua traveler yang bersepeda dari Beijing ke Bali dan mereka berdua adalah guru yoga. Mereka mengajar yoga di setiap tempat yang disinggahi. Bertemu dengan para traveler yang mempunyai cerita unik ini merupakan bonus bagi saya, karena saya mendapatkan sudut pandang baru akan nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Sekarang ini bisnis yang dijalankan Irfan terbilang cukup mapan. Dalam sebulan dia biasa mengatur sekitar 20-50 perjalanan. Konsumennya beragam dari kelas backpacker sampai kelas eksklusif. Sebagai pelengkap layanan trip organizer, Irfan juga bekerja sama dengan temannya mengelola sebuah home stay yang diberi nama Mangotree Dipudjo.

Sekarang ini dirinya juga mempersiapkan bisnis penyewaan sepeda motor. Dari dua jenis usaha yang dijalani tersebut, Irfan mengaku mendapatkan omzet sekitar Rp 35 juta per bulan untuk usaha trip organizernya, sementara untuk home stay yang dikelolanya mencapai Rp 25 juta per bulan. Meski begitu, dia masih memiliki mimpi untuk usaha yang akan dijalankannya.

“Maunya saya punya one stop service untuk traveler. Jadi wisatawan bisa mendapatkan tempat menginap, informasi dan paket wisata, restoran, dan art space dalam satu tempat. Di tempat itulah orang-orang bertemu dan berinteraksi serta berbagi pengatahuan dan pengalamanan,” katanya.
Continue lendo

Profesi Dengan Gaji Tertinggi Di Dunia

Sebelumnya Forbes telah merilis 25 jurusan Universitas yang paling diminati. Tentunya juga jaminan pekerjaan yang menjanjikan pasca lulus dari Universitas tersebut.

Tapi apa pekerjaan dengan gaji awal tinggi dan terus tumbuh?

Dari survey yang dilakukan oleh Payscale.com, ada beberapa pekerjaan yang mampu merealisasikan hal tersebut. Mulai dari teknisi, ilmuwan, hingga ahli matematika.

Gaji awal yang ditawarkan untuk pekerjaan memang sangat tinggi. Dari level US$ 65.900 sampai dengan US$ 102.300 per tahun

Berikut rinciannya, seperti dikutip dari Forbes, Senin (20/10/2014).

Teknisi minyak

//images.detik.com/content/2014/10/20/4/080004_001.jpg
Awal US$ 102.300
Pertengahan US$ 176.300

Aktuaris

//images.detik.com/content/2014/10/20/4/080011_002.jpg
Awal US$ 60.800
Pertengahan US$ 119.600


Teknisi Nuklir

//images.detik.com/content/2014/10/20/4/080042_003.jpg
Awal US$ 67.000
Pertengahan US$ 118.800


Ahli Kimia

//images.detik.com/content/2014/10/20/4/080050_004.jpg
Awal US$ 69.600
Pertengahan US$ 116.700

Teknisi Teknologi dan Infromasi

//images.detik.com/content/2014/10/20/4/080109_005.jpg
Awal US$ 64.100
Pertengahan US$ 113.200










Continue lendo

Bugatti Veyron Made In Boyolali Indonesia


Lewat kualitas produk yang satu ini, kemampuan pengrajin Indonesia dalam menciptakan karya-karya berseni tinggi tak bisa dipungkiri lagi. Adalah pengrajin asal Boyolali yang turut jadi sorotan.

Pengrajin Boyolali Sanggup Bikin Bugatti Veyron Berbahan KayuDikatakan, sebuah workshop yang terletak di salah satu kota di wilayah Jawa Tengah tersebut mampu membuat sebuah replika ‘jet darat’ Bugatti Veyron yang berbahan kayu tulen.

Turut dijelaskan, replika mobil mewah asal Prancis dengan skala 1:1 itu bisa ditebus dengan merogoh kocek sebesar Rp 40 juta rupiah. Demikian dilansir dari Carscoops, Selasa (21/10/2014).

Seluruh bodi dan detail dari Bugatti Veyron tersebut bisa dilihat secara seksama pada replika kayu berkualitas tinggi ini. Bahkan, dikatakan, sejumlah fitur seperti kemudi, pedal, kursi, dan roda bisa berfungsi ‘penuh’ laiknya yang ada pada mobil sungguhan.

Adapun, Bugatti Veyron khas Indonesia berbahan dasar kayu ini dibuat untuk memenuhi pesanan dari pembeli asal benua biru, Eropa. Dijelaskan pula, mobil tersebut bakal dikirim ke pemiliknya yang berada di negeri asal Jerman.

Tak cuma menggarap Bugatti Veyron, workshop yang sama juga bukan kali pertama mengerjakan replika mobil mewah. Selain hypercar kebanggaan Prancis tersebut, pernah dibuat sportcar Jerman, Mercedes Benz 300SL dan sejumlah sepeda motor.
Continue lendo

300 Ratus Juta Sebulan Dari Bisnis Cacing

Banyak orang bergidik jijik ketika melihat geliat cacing. Hewan tak bertulang belakang ini menimbulkan kesan menjijikkan bagi sebagian besar orang. Namun beda halnya dengan Abdul Azis Adam Maulida. Bagi laki-laki yang akrab disapa Adam ini, sejak empat tahun lalu cacing justru menjadi sumber pendapatan.

Sejak menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Adam sudah punya niat berwirausaha. Namun niat itu terkubur lantaran tak menemukan ide usaha. Adam pun memutuskan menjadi karyawan di sebuah pabrik kertas. Selama sepuluh tahun, Adam bekerja di PT Tjiwi Kimia, di Mojokerto, Jawa Timur.

Baru pada 2010 dia meninggalkan pekerjaan itu. “Menurut saya, kalau bekerja di perusahaan, seseorang susah berkembang karena harus berhadapan dengan batasan dari sistem perusahaan tersebut. Sementara di luar begitu banyak peluang yang menanti,” ujar lelaki berusia 39 tahun ini.

Adam pun memantapkan diri untuk memulai usaha sendiri. Ia kembali ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, pada awal 2010 dan memilih agribisnis dengan menggeluti budidaya belut yang sedang ngetren kala itu. Adam menggelontorkan modal sebesar Rp 20 juta, termasuk untuk membeli sekitar dua kuintal belut.

Namun, Adam tak menyangka, banyak kendala dalam beternak belut. Sejak awal, ia sering mendapati belut-belut itu mati. “Pokoknya, sulit sekali bagi saya untuk membudidayakan belut sehingga hanya enam bulan saya beternak belut,” kata dia. Padahal Adam sudah ikut berbagai seminar mengenai pembiakan belut.

Yang tersisa hanyalah pakan belut, yakni cacing tanah sebanyak empat kilogram. Dia mengamati, ketika semua belutnya mati, cacing-cacing itu tetap bertahan, bahkan, berkembang. Dari situlah Adam mendapat ide untuk membudidayakan cacing yang memiliki nama latin Lumbricus rubellus.

Tepatnya, pada Agustus 2010, Adam mulai membiakkan cacing tanah. Sebelumnya, dia mempelajari seluk-beluk budidaya cacing tanah. Selain membaca buku, Adam juga belajar secara autodidak dengan praktik langsung di lapangan.

Dengan modal Rp 200.000, ayah seorang anak ini membeli indukan cacing. Selanjutnya, untuk media, dia membeli kotak kayu ukuran 40 cm x 50 cm yang ditumpuk hingga 12 tingkat. Jadi, Adam tak perlu lahan yang terlalu luas.

Adam tak perlu membeli makanan cacing. Cacing bisa diberi makan dari limbah rumahtangga maupun limbah pasar. Ia mengolah limbah dari para tetangganya untuk dijadikan pakan cacing. “Cara membudidayakan cacing memang sangat mudah. Makanya saya tertarik dan tak pernah berpikir untuk berhenti sampai sekarang,” tutur dia.

Bapak cacing

Adam mengaku, ketika mulai merintis budidaya cacing, dia belum mendapatkan pasar sama sekali. Hingga pada akhir 2010, dia mendapat titik terang. Seorang pemilik tempat pemancingan mendatangi peternakannya untuk memesan cacing.

Dulu, Rumah Cacing, nama peternakan cacing milik Adam, hanya bisa memproduksi lima kilogram cacing per minggu. Akan tetapi, kini, dia bisa memproduksi hingga tujuh ton cacing tanah per bulan. Omzetnya pun meningkat pesat. Dalam sebulan Adam bisa mengantongi sekitar Rp 300 juta.

Adam bilang, ia butuh proses cukup panjang untuk bisa menemui kesuksesan seperti saat ini. Setelah memasok cacing untuk beberapa tempat pemancingan di Malang, Adam semakin giat meningkatkan produksi. Nama Adam pun mulai dikenal penduduk Malang. Ia bahkan disebut-sebut orang sebagai Bapak Cacing.

Pada 2011 ia mendapat order untuk memasok cacing oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Sayang, Adam belum bisa langsung menyanggupi. Pasalnya, produksi cacingnya per bulan belum mencapai satu ton, seperti permintaan Dinas Perikanan itu.

Tak hilang akal, Adam menularkan ilmunya ke orang lain. Dia melakukan sosialisasi soal cacing ke masyarakat di sekitar Malang, sekaligus mengajak mereka untuk ikut membudidayakan cacing. “Saya ajak mereka untuk datang ke Rumah Cacing, lalu saya ajari cara beternak cacing,” ucap dia.

Di awal, usaha ini belum berbuah banyak. Hanya ada dua orang yang mau bergabung dengan Adam. Lalu, Adam mengembangkan sistem plasma dengan lebih terkoordinasi. Dengan sistem plasma, siapa pun yang bergabung akan mendapat pelatihan dari Rumah Cacing. Selanjutnya, Adam akan membeli hasil panen cacing dari anggota plasma.

Sampai saat ini, Adam sudah memiliki sekitar 1.600 anggota plasma. Namun, tidak semua anggota bisa konsisten memasok cacing padanya. “Dari keseluruhan jumlah anggota, sekitar 700 orang aktif menjual hasil panennya pada saya,” kata dia.

Suami Heni Nur Rahmania ini bilang, dalam sehari bisa disambangi sekitar 100 orang yang ingin belajar budidaya cacing. Adam menuturkan, budidaya cacing sebenarnya sangat gampang. Lagipula tingkat keberhasilan budidaya cacing hampir 100 persen. Hanya, informasi mengenai peluang budidaya cacing masih tergolong sedikit.

Sejauh ini, Adam tak menemukan penyakit atau hama yang mengganggu pertumbuhan cacing. “Kalau sudah tahu peluang usahanya pasti tertarik karena mudah,” tandas dia.

Selain mengandalkan pasokan dari anggota plasma, Adam pun masih terus memproduksi cacing. Bedanya, sekarang ia sudah memperkerjakan delapan orang karyawan. Kandang cacing pun sudah tak menggunakan kotak kayu lagi. Adam membangun 100 kolam yang dibuat dari batubata. Sekarang, Adam jadi pemasok utama cacing tanah untuk Dinas Perikanan Provinsi Jatim. Ia juga masih melayani penjualan kepada para pemilik usaha pemancingan dan pengusaha perikanan.  

Pengusaha tak bisa berhenti
Menanggalkan status  karyawan di perusahaan besar bukan hal mudah bagi Abdul Azis Adam Maulida. Kedua orangtuanya sempat menentang. Maklum, mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Jadi ketika Adam mengungkapkan keinginan untuk menjadi pengusaha, langsung tak mendapat respons baik dari orangtuanya.

Namun tekad Adam sudah bulat, meski dia sadar, usahanya tak langsung besar dalam sehari. “Setidaknya saya keluar dari sistem perusahaan dan bisa menciptakan sistem saya sendiri dengan potensi yang saya punya,” tutur Adam.

Dia berpesan, pengusaha harus terus berkembang. Tak ada lagi batasan yang menghalangi untuk berkembang selain diri sendiri. “Pelajari dulu peluang usaha. Kalau memang bagus, terus kembangkan, jangan berhenti karena pengusaha tak boleh mandek,” tegasnya.

Adam menegaskan peluang berbudidaya cacing masih sangat terbuka. Pembeli cacing sangat beragam, mulai pengusaha perikanan, peternak unggas hingga industri kosmetik dan farmasi. Tahun ini, Adam ingin menyasar industri farmasi. Namun, dia ingin membenahi produksinya sebelum memasok pasar baru. “Saya akan menambah anggota plasma untuk mendongkrak produksi,” ucap dia.

Adam menambahkan, dari budidaya cacing, ia bisa mengembangkan banyak potensi bisnis yang lainnya. Sejauh ini, Adam sudah merintis berbagai usaha yang masih berhubungan dengan bisnis utamanya. Misalnya saja, kebun jahe organik yang dikembangkan dengan pupuk dari kotoran cacing.

Selain itu, dia memiliki peternakan kambing, ayam, dan empang ikan yang akan mengonsumsi cacing untuk penggemukan. “Saya ingin kembangkan lebih banyak lagi dan saya juga memotivasi anggota plasma untuk sama-sama berkembang,” ungkap dia.
Continue lendo

Industri Kuliner Sangat Strategis bagi Perekonomian Indonesia

Sektor pariwisata berperan besar bagi perekonomian nasional. Salah satu sektor di dalam pariwisata yang menyumbang pemasukan terbesar untuk negara ini adalah industri kuliner.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dadang Rizki Ratman. "Kita harus menyediakan makanan dan minuman bagi para wisatawan. Dalam menyediakan makanan dan minuman, apa yang bisa dihidangkan sebagai makanan khas Indonesia? Kuliner bisa jadi citra pariwisata Indonesia," ujar Dadang.

Dalam sambutannya, Dadang menyebutkan bahwa dari data Badan Pusat Statistik, pada 2013 terdapat 8,8 juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Indonesia. Pada tahun yang sama, sektor pariwisata menyumbang 4 persen pos nasional, dan penerimaan devisa meningkat 9,8 persen mencapai 10 miliar dollar AS.

Sektor yang sama juga menyumbangkan 10,13 juta kesempatan kerja langsung dan tidak langsung di Tanah Ait. Selain bidang jasa berupa pelayanan akomodasi yang meliputi hotel, sarana transportasi, dan hiburan, ada pula industri makanan atau kuliner.

Industri inilah yang seringkali terlupakan. Padahal, menurut Dadang, semua wisman pasti membutuhkan makanan. Pembelanjaan para wisman pasti terserap di sektor ini. Data Kemenparekraf menunjukkan, wisata kuliner mengkontribusikan sekitar 25 persen dari perekonomian beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Kanada. Sementara itu, di Indonesia sendiri kontribusi sektor kuliner terhadap PDRB Indonesia tahun 2013 mencapai Rp 209 triliun.

"Kuliner merupakan sub-sektor ekonomi kreatif ke-15 yang dikembangkan sebagai produk unggulan agar menjadi daya tarik pariwisata sekaligus menjadi citra dan identitas bangsa," imbuhnya.

Hal inilah yang mendorong Kemenparekraf mencanangkan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI). Ikon tersebut, menurut Dadang, akan menjadi platform pengembangan kuliner Indonesia. Pemerintah juga berencana mengeluarkan Cetak Biru Industri Kreatif. Termasuk kuliner sebagai salah satu sub-sektornya.
Continue lendo

Modal Pengetahuan Lebih Dibutuhkan Daripada Modal Uang

Kesulitan mengembangkan usaha kecil menengah (UKM) karena ketidaktersediaan modal ternyata tidak sepenuhnya benar.

"Hasil riset kami di lapangan, lebih dari 60 persen masalah UMKM itu knowledge, pengetahuan. Kalau mereka bilang ke kami masalah utamanya modal, begitu kami cek ternyata knowledge," ujar  CEO Smartplus Consulting, Yuszak M Yahya.

Yuszak menyatakan, tidak jarang dia bertemu dengan para wirausahawan pemula yang mengeluh tidak memiliki modal cukup untuk mengembangkan usahanya. Ternyata, yang mereka butuhkan bukan modal namun informasi dan pengetahuan mengenai cara mengembangkan usaha.

"Sudah sering, bilangnya modal, begitu kami perbaiki ternyata benar, bagus tanpa kita suntik modal," imbuhnya.

Hal serupa disampaikan pula oleh Dewan Pembina Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Mandiri, Budi Satria Isman. Nama Budi selama ini sudah dikenal sebagai sosok yang terlibat dalam perusahaan-perusahaan besar, seperti Coca Cola, Danone, dan Sari Husada Bakti. Namun, kini Budi berkonsentrasi membantu para wirausahawan baru.

Budi bercerita, dia telah berhasil melatih dan membekali para wirausahawan tanpa membutuhkan biaya besar. Di sisi lain, dia juga mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mengeluarkan anggaran dalam jumlah besar untuk melakukan hal serupa.

"Ada 12 kementerian yang terlibat dalam UMKM, itu triliunan duit yang keluar. Kami gak kebayang, pengalaman kami selama ini kita bina dengan coba ber-partner dengan Coca-Cola, kemudian Adira, kemudian ada beberapa pihak Pemda, kami bisa membina selama enam bulan dengan biaya hanya Rp 600.000 per UKM," ujar Budi.

Menurut Budi, dia dan tim mampu menyediakan pendidikan, bengkel kerja, memberikan pengetahuan, serta pelatihan tanpa menitikberatkan kebutuhan pada anggaran besar. Salah satu hal yang penting, menurut Budi, adalah mencari pasar bagi produk UKM tersebut.
Continue lendo

Untung Ratusan Juta Dari Ban Bekas

"Kreatifitas itu tidak boleh mati". Semboyan itulah yang memotivasi Usman (37 tahun), seorang pria yang menghasilkan puluhan kursi cantik dan awet dari ban bekas, setiap harinya.

Usaha rintisan bapaknya di tahun 1980-an itu, kini semakin berkembang besar, dengan dua puluh lima karyawan, dan pengiriman ratusan buah ke luar pulau jawa tiap bulannya.

Sebagian orang mungkin tak menyangka, kursi cantik dari ban bekas itu, berasal dari sini, di sebuah Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lokasi produksi yang tak jauh dari jalur utama Pantura, dan tepat di pinggir jalan ini, tampak seperti sebuah tukang loak. Meski sedikit kokoh, bangunan terkesan didirikan dengan bahan seadanya. Pintu masuknya terbuat dari seng, di sekelilingnya dipenuhi barang dan ban bekas.

Namun ternyata, setelah masuk, anda akan dikagetkan dengan tumpukan puluhan, bahkan ratusan ban bekas, yang berada di atas lahan sekitar satu hektar. Sebagian masih bahan mentah, sebagian sudah disulap menjadi kursi ban bekas yang cantik.

Di bagian depan, Usman membelah ban bekas menggunakan pisau yang sangat tajam. Di bagian tengah hingga paling belakang, belasan pekerjanya pula mengolah dan membuat kursi ban bekas.

Setiap minggu, Usman membeli ban bekas truk fuso yang berukuran sangat besar sejumlah 120 buah, dari Jakarta. Ia pula membeli ban bekas mobil truk, dan mobil biasa, untuk anyaman dan kreasi lainnya.

"Kebanyakan bahannya (ban bekas) dari Jakarta. Tapi ada juga dari daerah lain. Sekali beli, pakai truk fuso," jelas Usman di tengah aktivitasnya.

Usaha kursi dari ban bekas yang sedang dijalaninya itu, ternyata rintisan bapaknya, Yusuf, di tahun 1980an. Dari yang hanya ditemani dua orang pekerja, kini usaha ban bekas itu dipenuhi lima belas hingga dua puluh lima karyawan bila kejar target.

"Bahkan dahulu bapak memulai usahanya sejak masih merantau di Jakarta. Karena melihat banyak ban bekas berantakan, ia belajar merapihkan hingga bisa membuat kursi," kata Usman.

Dalam sehari, bapak yang baru dianugerahi dua anak, bersama lima belas pegawainya, dapat menghasilkan lima belas set, dengan jumlah satu setnya 4 kursi dan satu meja, dalam satu hari. "Dalam seminggu, kita bisa selesaikan sekitar 105 set, atau sebanyak 420 kursi, dan 105 meja, siap kirim," jelas Usman.

Dan yang cukup mengagumkan, ban bekas yang sudah disulap menjadi kursi cantik, kokoh, dan awet itu, biasa dikirim ke Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur (dahulu), dan beberapa daerah lainnya, dengan total sekitar 100 set setiap minggunya.

Satu set kursi ban bekas Usman jual seharga Rp 400.000. Dari pengiriman tiap minggunya, ia mendapat sekitar Rp 40.000.000. Dan dalam satu bulan, Usman dapat meraup untung sekitar Rp 160 juta.

Laba yang terbilang besar, dilihat dari jumlah modal pembelian ban bekas yang cukup murah, dan beberapa ban baru untuk di bagian permukaan. Ia hanya menambahkan ongkos transport, pengiriman barang, dan upah bagi 25 karyawan yang dibayar sesuai dengan tingkat kesulitannya.

"Meski ban bekas, tapi kalau bisa merajutnya, merapihkan, dan mempercanrtik, orang pun pasti tertarik. Apalagi kursi ini lebih jauh lebih awet ketimbang kursi kayu," jelas Usman.

Usman mengklaim, usaha rintisan bapaknya itu merupakan usaha kursi ban bekas tertua dan terbesar di Cirebon ketimbang yang lain. Sudah 34 tahun berdiri, Yusuf bersama Usman sudah menghidupi ekonomi masyarakat sekitar, dan tidak sedikit pemuda putus sekolah yang diberdayakan di usahanya.

Miliki (17 tahun) sudah sekitar tiga tahun bekerja membungkus sandaran tangan kursi ban bekas dengan busa dan kain. Pemuda yang putus sekolah saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengaku senang, lantaran satu hari ia bisa dapat upah sekitar Rp. 30.000 - Rp. 50.000 perhari.

"Lumayan bisa buat makan dan jajan sendiri. Ini lebih baik, daripada saya nganggur Mas," kata Miliki yang tinggal di Blok Kambuan, Desa Kambuan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon.
Continue lendo

Ungkapkan Dengan Mustika

Wanita & Keluarga

Spiritual

 

Spirit Indonesia Copyright © 2011 | Template design by O Nana | Powered by SpiritIndonesia