Spirit Indonesia

Meniru Orang Kaya, Belajar Dari Orang Miskin

Di sore hari yang cerah, saya terlibat sebuah perbincangan dengan seorang teman baru yang dikenalkan oleh partner bisnis saya. Beliau adalah seorang praktisi NLP (Neuro Linguistik Programming), sehingga saya menjadi amat tertarik untuk mempelajari NLP.

Tidak sampai 30 menit pebincangan saya dengan orang ini, saya menjadi sangat akrab. Hingga kami sampai pada sebuah topic pembicaraan yang menarik, bahwa ada sebuah fenomena menarik yang sering didapati pada orang tua-orang tua yang telah memiliki anak, bahwa mereka sebenarnya membuat anaknya menjadi siap miskin!

Mengapa bisa demikian?

Ada beberapa yang point yang dapat bisa dimimak mengenai hal itu,

Pertama, dokter mengajarkan membangun rumah. Anda tentu tahu bahwa seorang dokter adalah seorang yang ahli dalam menyembuhkan penyakit? Sedangkan, orang yang merancang konstruksi bangunan berhubungan dengan teknik sipil? Lantas, apa jadinya bila seorang dokter mengajarkan orang lain bagaimana caranya membangun rumah? Ya, jawabannya adalah rumahnya tidak jadi, atau begitu selesai, rumahnya ambruk.

Nah, ini rupanya terjadi dalam kehidupan antara anak dan orang tua. Orang tua ingin memberikan teladan banyak hal kepada anaknya. Tentunya, pengetahuan terbaik dari orang orang tua akan diberikan kepada anaknya.

Bila seorang anak dokter ingin menjadi dokter, saya yakin 100 persen orang tuanya akan memberikan segala ilmu dan pengetahuannya. Namun, bila seorang anak ingin belajar menjadi ahli dalam kekayaan dan orang tuanya tidak memiliki pengetahuan tersebut, maka bisa diartikan seorang anak masuk ke dalam kategori salah didik.

Kedua, fenomena kupu-kupu. Sebelum menjadi kupu-kupu, binatang itu berasal dari larva dan membentuk kepompong. Namun, apakah yang terjadi ketika kita memaksa seekor kupu-kupu yang masih berada di dalam kepompong untuk keluar dengan maksud yang sebenarnya baik, yaitu agar bisa segera terbebas? Tentunya kupu-kupu tersebut akan mati!

Saking terlalu sayang pada anaknya, banyak orang tua yang berkecukupan justru memanjakan anak-anaknya dan membuat mereka ‘mati’ di masa depannya, mengapa? Mereka sebenarnya tidak siap untuk ‘terbang’, namun mereka hanya siap ketika semua disediakan oleh orang tuanya. Selama ini, banyak orang tua yang salah mengartikan kata sayang dengan berusaha membuat anaknya terus menerus nyaman.

Masalahnya, suatu hari, suatu saat, seorang anak akan berpisah dengan orang tuanya. Apa jadinya ketika harus berdiri sendiri, namun seumur hidup anak tersebut telah dibantu dan dicukupi oleh orang tuanya?

Ketiga, fenomena teladan. Masih berkaitan dengan point sebelumnya, banyak orang tua kaya ingin memberikan kenyamanan dengan mempersiapkan semua bagi anak-anaknya. "Nak, kamu tidak usah ikut-ikut kerja, ini semua sudah ayah/ibu siapkan untukmu."

Orang tua yang kaya dan sukses, seharusnya anaknya bisa meneladani. Namun, karena rasa sayang yang salah, membuat anaknya menjadi malas karena mendapat pesan ‘tidak usah ikut-ikut’.

Lain halnya dengan orang miskin, "Nak, lihat ayah/ibu, sudah bekerja mati-matian, tapi masih saja susah. Kamu harus seperti ayah/ibu bekerja lebih keras lagi."

Kontrasdengan orang tua kaya, justru si orang miskin meminta anaknya melihat dirinya sebagai orang tua dan bekerja mengikuti apa yang mereka lakukan. Menurut Albert Einstein, “Hanya orang gila, mengulang dua aktivitas yang sama untuk mengharapkan hasil yang berbeda”.

Sudah jelas-jelas cara yang dilakukan oleh orang tuanya salah, justru anaknya malah minta melakukan cara yang sama. Namun ada sebuah hal menarik yang diungkapkan orang miskin: bekerja lebih keras lagi.

Andaikan seseorang yang belajar dari kesuksesan orang kaya dengan semangat orang miskin, hasilnya akan WOW..

Bagaimanapun, semua orang ingin menjadi sukses, kaya dan bahagia. Namun, bila tidak tahu caranya, hal itu sama saja dengan berjalan tanpa tujuan. Anda akan berputar-putar. Lantas, apa cara yang terbaik? Mulailah belajar hari ini juga, luangkanlah waktu, bukalah diri dan pikiran, niscaya kita akan mengetahui dengan rendah hati, apakah kita salah dan kita mau memperbaikinya.

Salam Investasiuntuk Indonesia
Di sore hari yang cerah, saya terlibat sebuah perbincangan dengan seorang teman baru yang dikenalkan oleh partner bisnis saya. Beliau adalah seorang praktisi NLP (Neuro Linguistik Programming), sehingga saya menjadi amat tertarik untuk mempelajari NLP.

Tidak sampai 30 menit pebincangan saya dengan orang ini, saya menjadi sangat akrab. Hingga kami sampai pada sebuah topic pembicaraan yang menarik, bahwa ada sebuah fenomena menarik yang sering didapati pada orang tua-orang tua yang telah memiliki anak, bahwa mereka sebenarnya membuat anaknya menjadi siap miskin!

Mengapa bisa demikian?

Ada beberapa yang point yang dapat bisa dimimak mengenai hal itu,

Pertama, dokter mengajarkan membangun rumah. Anda tentu tahu bahwa seorang dokter adalah seorang yang ahli dalam menyembuhkan penyakit? Sedangkan, orang yang merancang konstruksi bangunan berhubungan dengan teknik sipil? Lantas, apa jadinya bila seorang dokter mengajarkan orang lain bagaimana caranya membangun rumah? Ya, jawabannya adalah rumahnya tidak jadi, atau begitu selesai, rumahnya ambruk.

Nah, ini rupanya terjadi dalam kehidupan antara anak dan orang tua. Orang tua ingin memberikan teladan banyak hal kepada anaknya. Tentunya, pengetahuan terbaik dari orang orang tua akan diberikan kepada anaknya.

Bila seorang anak dokter ingin menjadi dokter, saya yakin 100 persen orang tuanya akan memberikan segala ilmu dan pengetahuannya. Namun, bila seorang anak ingin belajar menjadi ahli dalam kekayaan dan orang tuanya tidak memiliki pengetahuan tersebut, maka bisa diartikan seorang anak masuk ke dalam kategori salah didik.

Kedua, fenomena kupu-kupu. Sebelum menjadi kupu-kupu, binatang itu berasal dari larva dan membentuk kepompong. Namun, apakah yang terjadi ketika kita memaksa seekor kupu-kupu yang masih berada di dalam kepompong untuk keluar dengan maksud yang sebenarnya baik, yaitu agar bisa segera terbebas? Tentunya kupu-kupu tersebut akan mati!

Saking terlalu sayang pada anaknya, banyak orang tua yang berkecukupan justru memanjakan anak-anaknya dan membuat mereka ‘mati’ di masa depannya, mengapa? Mereka sebenarnya tidak siap untuk ‘terbang’, namun mereka hanya siap ketika semua disediakan oleh orang tuanya. Selama ini, banyak orang tua yang salah mengartikan kata sayang dengan berusaha membuat anaknya terus menerus nyaman.

Masalahnya, suatu hari, suatu saat, seorang anak akan berpisah dengan orang tuanya. Apa jadinya ketika harus berdiri sendiri, namun seumur hidup anak tersebut telah dibantu dan dicukupi oleh orang tuanya?

Ketiga, fenomena teladan. Masih berkaitan dengan point sebelumnya, banyak orang tua kaya ingin memberikan kenyamanan dengan mempersiapkan semua bagi anak-anaknya. "Nak, kamu tidak usah ikut-ikut kerja, ini semua sudah ayah/ibu siapkan untukmu."

Orang tua yang kaya dan sukses, seharusnya anaknya bisa meneladani. Namun, karena rasa sayang yang salah, membuat anaknya menjadi malas karena mendapat pesan ‘tidak usah ikut-ikut’.

Lain halnya dengan orang miskin, "Nak, lihat ayah/ibu, sudah bekerja mati-matian, tapi masih saja susah. Kamu harus seperti ayah/ibu bekerja lebih keras lagi."

Kontrasdengan orang tua kaya, justru si orang miskin meminta anaknya melihat dirinya sebagai orang tua dan bekerja mengikuti apa yang mereka lakukan. Menurut Albert Einstein, “Hanya orang gila, mengulang dua aktivitas yang sama untuk mengharapkan hasil yang berbeda”.

Sudah jelas-jelas cara yang dilakukan oleh orang tuanya salah, justru anaknya malah minta melakukan cara yang sama. Namun ada sebuah hal menarik yang diungkapkan orang miskin: bekerja lebih keras lagi.

Andaikan seseorang yang belajar dari kesuksesan orang kaya dengan semangat orang miskin, hasilnya akan WOW..

Bagaimanapun, semua orang ingin menjadi sukses, kaya dan bahagia. Namun, bila tidak tahu caranya, hal itu sama saja dengan berjalan tanpa tujuan. Anda akan berputar-putar. Lantas, apa cara yang terbaik? Mulailah belajar hari ini juga, luangkanlah waktu, bukalah diri dan pikiran, niscaya kita akan mengetahui dengan rendah hati, apakah kita salah dan kita mau memperbaikinya.

Salam Investasi untuk Indonesia


Sumber : Ryan Filbert (Kompas.com)
Continue lendo

Orang Dibalik Bill Gates Yang Jadi Mesin Uang

CEO Microsoft, Bill Gates, masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia, dengan kekayaan lebih dari USD81,6 miliar. Bill Gates, yang juga pemilik Nokia ini, terus mencetak pundi-pundi yang setiap tahunnya.

Namun, di balik kesuksesan Bill Gates, dia mempunyai "senjata rahasia", yakni orang kepercayaannya yang mungkin Anda belum pernah dengar. Namanya adalah Michael Larson.

Melansir businessinsider, Selasa (23/9/2014), Gates mempekerjakan Larson 20 tahun yang lalu, ketika kekayaan bersihnya baru USD5 miliar, seperti yang tertulis dalam laporan Anupreeta Das dan Craig Karmin di Wall Street Journal. Larson menjalankan perusahaan investasi pribadi Gates 'Cascade Investment LLC, yang didanai sepenuhnya oleh Gates.

Ada suatu masa, di mana kekayaan Gates hanya bergantung pada Microsoft semata, meski selama bertahun-tahun dia telah menjual saham Microsoft-nya. Masyarakat melihat, Gates telah menggunakan dana dari penjualan tersebut untuk amal. Tapi itu tidak sepenuhnya benar.

Meskipun Gates juga melakukan investasi sendiri di teknologi, tapi itu adalah kayra Larson, melalui Cascade, yang telah mengambil uang Gate dan mendiversifikasikannya.

Hasilnya, Gates memiliki kawasan real estate dan perusahaan non-tech seperti National Railway Co Kanada, AutoNation Inc, dan Republik Services Inc. Perusahaan inilah yang membantu mendanai kekayaan Gates.

Meskipun Gates terkenal sebagai filantropi dan secara mengejutkan telah menyumbang USD38 miliar untuk yayasan amalnya, tapi dia tidak pernah kekurangan uang berkat Larson. Bahkan, uang yang masuk lebih banyak dari uang yang dia sumbangkan.

Pada Februari lalu, Gates merayakan 20 tahun kemitraannya dengan gala dinner untuk menghormati Larson di rumah besarnya, Seattle. Itu adalah kesempatan langka di mana hebat bertemu satu sama lain.

Di pesta itu, Gates mengatakan dia memberikan kepercayaan penuh pada Larson. Artinya, Larson memiliki hak penuh untuk berinvestasi, membeli, menjual, mengambil kebijakan dengan uang Gates. Dan Larson melakukan semua itu secara rahasia, tidak heran dia dijuluki "Gateskeeper" alias penjaga gawang atau bisa juga diartikan penjaga Bill Gates.

Seorang sumber mengatakan, meskipun perusahaan go publik ini mengungkapkan bahwa Cascade telah banyak berinvestasi di dalamnya, namun Larson memiliki segala macam trik untuk menjaga agar nama Bill Gates tetap keluar dari investasi Cascade.

Misalnya, dia membuat karyawan menandatangani perjanjian kerahasiaan untuk menjaga hal ini, bahkan setelah mereka pindah. Dia menanamkan uangnya lebih dari USD10 miliar pada 25 manajer investasi diluar perusahaam.

Dengan cara ini, maka Larson tidak hanya menemukan ide-ide investasi baru, tetapi juga membantu menutupi jejak. Ketika Cascade menjadi bagian dari kelompok investasi yang membeli Ritz-Carlton Hotel di San Francisco, mereka bahkan tidak tahu Cascade dan Bill Gates, berada di antara mereka.

Dia begitu pandai menyembunyikan jejak yang kebanyakan orang tidak tahu bahwa Gates, melalui Cascade, memiliki saham yang signifikan di Four Seasons. Sayangnya, karyawan Cascade tidak diperbolehkan untuk menginap di Four Seasons ketika perjalanan bisnis, bahkan ketika bisnis tersebut adalah bisnis untuk Four Seasons.

Jadi, Bill dan Melinda Gates memang telah berjanji untuk menyumbangkan 95 persen dari kekayaan mereka untuk yayasan amal Gates Giving Pledge. Tapi di saat yang bersamaan, Larson terus membuat kekayaan mereka tumbuh.
Continue lendo

Perjalanan Pencarian Modal Tokopedia

INTERNET telah menjadi budaya yang semakin diminati bagi masyarakat. Pasalnya sekarang ini internet telah bertransformasi menjadi pusat informasi yang paling mudah didapat dan diakses oleh masyarakat kapan saja dan dimana saja.

Inilah yang akhirnya membawa William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison membangun usaha toko online yang mereka beri nama Tokopedia. CEO Tokopedia, William Tanuwijaya mengatakan ide mendirikan toko online tersebut bermula pada 2007 dan baru benar-benar bisa berhasil diwujudkan pada 2009.

"Jadi awalnya saya dengan partner saya berdua jadi kami baru memulai bisnis Tokopedia baru di 2009, jadi selama 2007 sampai 2009 kami mencari pemodalan," ujarnya saat di temui di gedung MNC Tower.

Dia menjelaskan, pada 2007 dia dan temannya melihat bahwa terdapat dua masalah yang terjadi di lapangan, yakni orang-orang yang ingin berbelanja online memiliki kekhawatiran atas risiko pengiriman seperti penipuan.

Selain itu, banyak penjual-penjual yang ingin berjualan online tapi memiliki keterbatasan, entah karena keterbatasan kemampuan teknis, keterbatasan akses ke bank, logistik, hingga akses ke pasar.

"Kami melihat oportunity itu kami melakukan riset dan ternyata Indonesia ini kekurangan sesuatu model, yaitu model market place, jadi di Indonesia ini sudah banyak sekali website iklan baris, sudah banyak sekali retail, untuk menjawab kebutuhan terhadap dua masalah tadi dibutuhkan model yang namanya market place, dan Tokopedia fokus kami ingin menjadi produk market place di Indonesia," jelasnya.

Menurutnya saat mendirikan toko online tersebut, dia mempunyai cita-cita untuk menjadikan produk Indonesia setara dengan produk global. Hal ini dilandasi rasa penasaran, karena orang Indonesia tidak bisa membangun produk internet yang bisa bersaing di kancah global. "Bukan karena hobi belanjanya di awal, tapi kami melihat masalah, dan ya kalau sekarang belanja pasti cek Tokopedia," tambah dia.

Hanya saja, memang sangat sulit mendapatkan orang atau investor yang dapat percaya dan berani menanamkan modalnya dan berinvestasi pada bisnis tersebut. Pasalnya, di Indonesia belum ada pengusaha yang sukses karena berjualan di internet, "Jadi orang-orang khawatir bagaimana kalau mereka sudah investasi tapi ternyata tidak ada untungnya," jelasnya.

Namun, di 2009 dia berhasil mendapatkan kepercayaan seorang investor dan bisa memulai bisnisnya Tokopedia, dan setelah itu setiap tahunnya Tokopedia mendapatkan investor baru dari investor-investor besar dunia.

"Jadi 17 Agustus 2009 ketika kami luncurkan, kami berhasil meyakinkan 70 toko online, jadi seperti mall isinya baru 70 toko online, jumlah pengunjung pun tidak seberapa lah, paling berapa ratus orang per hari," kata William.

"Saat ini sudah berkembang menjadi puluhan ribu penjual, dengan lebih dari 2 juta produk terjual per bulan dan bulan kemarin kami mencatatkan pertumbuhan 30 persen dalam bulan per bulan," tukas dia.
Continue lendo

Raup Jutaan Rupiah dari Potongan Bambu

Inspirasi dalam berkarya dapat datang dari mana saja dan sering dalam kondisi yang tidak terduga. Seperti yang dialami Roni Dwi Wijayanto, perajin lampu hias berbahan bambu ini.

Warga Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini memulai usahanya itu sejak dua tahun silam. Sebuah usaha yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Suami dari wanita bernama Sunarti ini, menuturkan, ide membuat kerajinan bambu itu datang begitu saja saat dia sedang makan di dapur rumah sederhananya di kampung. Saat makan itu ia sembari menunggui nyala api tungku berbahan bakar aneka kayu yang tidak terpakai.

Suatu kali dia memegang potongan bambu untuk dimasukkan tungku. Dia gelisah. Merasa sayang dengan potongan bambu yang akan menjadi abu itu. Dia kemudian berpikir bagaimana memanfaatkan potongan-potongan bambu yang melimpah itu.

"Akhirnya saya mencoba membuat lampu hias," kata Roni.

Hasil karyanya itu mendapat perhatian dari lingkungan sekitarnya dan banyak yang memesannya. Dia kemudian membuat lampu hias itu secara massal.

Seiring berjalannya waktu, dia mengembangkan usahanya dengan menambah ragam bentuk dan model. Hasil kerajinannya menjadi cukup populer seiring dengan kerap mengikuti pameran UKM.

"Salah satu pemasarannya ya lewat pameran-pameran," imbuh pria lulusan STM ini.

Hasil kerajinan tangan itu ia lego ke pasaran antara Rp 25.000 hingga Rp 250.000. Saat ini sudah ada 10 macam model lampu hias duduk maupun lampu hias tempel.

"Sebulan, setidaknya saya mengumpulkan uang Rp 5 juta dari usaha ini," imbuh ayah Mita (5) dan Afika (2) ini.

Berkat kerajinan tangannya itu, dia kini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebelumnya dia mengaku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kuli angkut pasir pun pernah dia lakukan.

Saat ini mimpi besarnya adalah mengembangkan usahanya semakin besar. Selain bahan bambu yang cukup banyak, jumlah tenaga kerja di desanya juga melimpah. "Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," ujarnya.

Selain berkutat pada lampu hias, dia juga tengah melebarkan usahanya di bidang pembuatan bangunan kafe maupun rumah makan. Dia tetap berkutat pada bahan bambu untuk bangunan-bangunan itu. Selain itu juga ada kursi bambu.

"Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," pungkasnya.



Sumber : Kompas
Continue lendo

Modal Ratusan Ribu Jadi Milyaran

Hobi seringkali bisa menjadi sebuah ladang bisnis jika jeli melihat peluang. Itulah yang Arie Setya Yudha jalani hingga sukses mengembangkan bisnis seragam militer di bawah bendera PT Molay Satria Indonesia.

Meski masih tercatat sebagai seorang mahasiswa, Aria kini sudah mampu menjelma sebagai pebisnis seragam tempur yang berhasil menembus pasar internasional. Produk yang dia hasilkan tidak hanya pakaian tempur atawa pakaian militer, tetap juga perlengkapan lainnya seperti topi dan ikat pinggang, sepatu dan tas.

Arie hanya mengandalkan penjualan lewat internet untuk mempromosikan produknya ke luar negeri. Sementara, di dalam negeri dia memiliki beberapa distributor dan diler resmi di Jakarta Pusat.

Dorongan kuat untuk memulai bisnis kala itu lantaran Aria memiliki kegemaran bermain airsoft gun. Sementara, biaya untuk bisa bermain permainan tersebut tidak murah. Apalagi dia hanya mengandalkan uang kiriman orang tua yang terbatas. Agar bisa terus menjalankan hobinya, Aria berniat mencari uang tambahan.

Kemudian terbesitlah ide untuk membuat seragam airsoft gun. Karena waktu itu saya melihat seragam yang ada di pasar tidak memiliki kualitas yang bagus. "Jadi saya ingin buat seragam yang kualitasnya tinggi,” tutur pria kelahiran 31 Maret 1990 ini.

Dengan menyisihkan uang jajan, Arie mengumpulkan modal Rp 280.000 untuk memulai usahanya pada tahun 2009. Modal tersebut ia pergunakan untuk membeli 4 meter (m) kain. Arie lalu membuat desain dan pola pakaian. Sedangkan proses pengerjaannya ia serahkan ke penjahit.

Arie kemudian mengunggah hasil produksi pertamanya ke forum jual beli di internet. Ternyata banyak yang tertarik dengan seragam buatannya. Seragam tersebut terjual seharga Rp 560.000. "Keuntungannya untuk bayar ongkos jahit dan modal produksi pesanan selanjutnya," kata dia.

Setelah itu pesanan seragam terus mengalir. Dia pun makin serius menjalani usaha ini dengan membuka rumah produksi yang berlokasi di Yogyakarta. Dengan modal Rp 25 juta dari keuntungan usaha yang dikumpulkan, Arie membeli mesin jahit dan beberapa peralatan lainnya untuk produksi. "Jadi sebenarnya saya beli mesin jahit dan saya kasih ke tukang jahit. Rumah mereka saya jadikan rumah produksi kami," kata dia.

Saat ini, Arie sudah memiliki tujuh penjahit langganan untuk produksi sehari-hari. Sementara, jika produksi sedang banyak, ia juga menyebar pesanan jahitan ke penjahit lain.

Dengan modal yang masih terbatas kala itu, pria berusia 24 tahun ini terus mengembangkan usahanya. Kendati tak punya latarbelakang di bidang konveksi, Arie merasa hal itu tidak menjadi kendala. Ia banyak belajar secara otodidak dari internet. Pengetahuan tentang bahan baku yang berkualitas hingga cara mendapatkan pemasok dia dapatkan dari riset di internet.

Hingga kini, Arie masih terkendala mencari tempat produksi dan penjahit karena produksinya makin banyak. "Namun, masih terlalu sedikit sedikit jika dimasukkan ke pabrik besar," kata dia.

Sepanjang tahun 2013, Aria mengaku bisa mengantongi omzet sebesar Rp 1,5 miliar. Pada delapan bulan pertama di tahun ini, omzet usahanya sudah sudah mencapai Rp 2 miliar. Dia optimistis hingga akhir tahun 2014 bisa mencetak omzet hingga Rp 3 miliar. Sebagai bukti kesuksesannya membangun bisnis, Arie  pernah menjadi salah satu finalis Wirausaha Muda Mandiri pada tahun 2011 untuk kategori bisnis.

Kendati Kesuksesan sudah digapai, namun perjalanan Arie untuk membesarkan Molay Military Uniform Division tidak selalu berjalan mulus. Tidak memiliki pengalaman apapun di dunia konveksi, dia hadapi dengan belajar banyak dari internet. Meski sudah memiliki pemasok bahan baku langganan dari luar negeri, namun Arie mengaku masih kesulitan mencari pemasok yang benar-benar sesuai dengan kriterianya.

Selama ini sebagian bahan baku masih dia datangkan dari luar negeri, salah satunya dari Malaysia. Namun dia mengaku sebagian besar bahan baku tetap berasal dari dalam negeri.

Selain itu, terkadang dia juga kesulitan mencari tenaga penjahit untuk menyelesaikan pesanan yang datang. Kapasitas produksinya saat ini sudah terlalu besar untuk garmen kecil. Namun juga masih terlalu sedikit untuk dimasukkan ke garmen berskala besar. "Kapasitas produksi kami saat ini masih tanggung," ujar Arie.

Saat ini rata-rata produksinya minimal 200 seragam per bulan. Harga jual produknya berkisar Rp 560.000 hingga Rp 2 juta per unit. Beberapa pasar internasional yang sudah berhasil dia tembus seperti Italia, AS, Swedia, Kanada, Austria, dan Norwegia

Terlepas dari berbagai kendala yang dia hadapi, Arie masih tetap semangat mengembangkan usahanya. Salah satunya caranya adalah dengan menyiapkan sistem pemasaran business to business (B2B) untuk memperbesar pasar. Sebab selama ini  Molay Military Uniform Division baru terfokus pada penjualan ke konsumen ritel lewat internet. Pasar internasional yang berhasil dia tembus pun kebanyakan adalah pembeli ritel yang mendapatkan informasi produknya dari internet.

Dengan konsep pemasaran baru tersebut, Arie yakin permintaan bisa meningkat dan omzetnya otomatis akan makin besar. "Saya akan membangun hubungan dengan pengusaha lain yang tentunya bertujuan untuk bisa meraih konsumen yang lebih banyak," kata dia.

Agar siap dengan ekspansinya memperluas pasar ke konsumen korporat atau perusahaan, tahun ini Arie mengaku telah menpersiapkan banyak produk-produk baru agar konsumen memiliki lebih banyak pilihan produk. Dari situ dia berharap bisa tetap mendapatkan kepercayaan dari konsumen dan mampu meningkatkan brand Molay Military di pasar lokal dan internasional.

Dia berharap bisa segera mendapat jalan keluar dari kendala SDM yang terbatas serta bisa mendapatkan lokasi rumah produksi yang tepat.
Continue lendo

Mahasiswa Raup Omzet Miliaran

Tidak pernah tebersit di benak Arie Setya Yudha untuk bisa menjadi produsen seragam militer yang mampu menembus pasar Amerika Serikat (AS) dan banyak negara di Eropa. Namun, laki-laki yang masih menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini nyatanya mampu memasarkan produknya di wilayah tersebut.

Lewat merek Molay Military Uniform Division, laki-laki kelahiran tahun 1990 ini sukses mengembangkan bisnisnya hingga mampu mencetak omzet sebesar Rp 1,5 miliar sepanjang tahun 2013.
Berawal dari kegemarannya bermain airsoft gun, Arie merintis usaha pembuatan seragam militer di bawah bendera PT Molay Satria Indonesia pada tahun 2009 di Yogyakarta. Awalnya, ia hanya memproduksi seragam sesuai permintaan, tetapi kini ia mampu memproduksi lebih dari 200 set seragam militer setiap bulan.


Arie mengaku memproduksi seragam militer ini menggunakan bahan baku yang berkualitas. Masalah kualitas memang menjadi perhatian utama baginya. Sebab, agar produknya makin diterima oleh konsumen di luar negeri, kualitas yang prima menjadi keharusan.
Oleh sebab itu, Arie sangat selektif memilih bahan baku seperti kain, retsleting, ataupun kancing seragam. Arie melakukan riset mendalam di internet untuk bisa mendapatkan bahan baku dari produsen langsung. Tidak jarang dia mendatangkan bahan baku impor. “Jadi intinya harus pintar-pintar mencari via internet,” tandasnya.

Sampai sekarang dia memasarkan produknya hanya lewat internet. Satu set seragam dia jual seharga Rp 560.000-Rp 2 juta. Sebagian besar konsumennya adalah orang-orang militer, kepolisian, pekerja tambang, maupun para penggemar permainan airsoft gun. Beberapa pasar internasional yang sudah berhasil dia tembus seperti Italia, AS, Swedia, Kanada, Austria, dan Norwegia.

Usaha Arie pun terus berkembang dengan memanfaatkan internet ataupun forum maya sebagai media pemasaran, seperti Kaskus maupun situs jual beli online luar negeri. Permintaan terhadap Molay Military Uniform Division terus meningkat setiap tahun. Sepanjang tahun 2014 hingga Agustus ini, pria berusia 24 tahun ini mengaku sudah meraup omzet hingga Rp 2 miliar dari penjualan seragam militer lewat toko online. “Hingga akhir tahun kita targetkan mencapai angka Rp 3 miliar,” ungkapnya.

Selain pemasaran lewat internet, Arie juga memiliki reseller atau distributor di berbagai daerah serta dealer resmi di Jakarta Utara. Pada usianya yang masih relatif muda, Arie sudah mampu mandiri secara ekonomi. Ia tak lagi harus mengandalkan kiriman dari orangtuanya untuk membiayai kuliah dan hidupnya. Arie pun bisa melakukan kegemarannya bermain airsoft gun kapan pun dia mau tanpa harus khawatir masalah dana.

Kini Arie dibantu oleh 17 karyawan. Sebanyak 10 di antaranya adalah staf pemasaran dan tujuh lainnya di bagian produksi. Ari mengaku akan terus melakukan inovasi-inovasi baru dan semakin memperluas pasarnya ke luar negeri.

Baca Juga :  Modal Ratusan Ribu Jadi Milyaran
Continue lendo

Ungkapkan Dengan Mustika

Wanita & Keluarga

Spiritual

 

Spirit Indonesia Copyright © 2011 | Template design by O Nana | Powered by SpiritIndonesia