Spirit Indonesia

300 Ratus Juta Sebulan Dari Bisnis Cacing

Banyak orang bergidik jijik ketika melihat geliat cacing. Hewan tak bertulang belakang ini menimbulkan kesan menjijikkan bagi sebagian besar orang. Namun beda halnya dengan Abdul Azis Adam Maulida. Bagi laki-laki yang akrab disapa Adam ini, sejak empat tahun lalu cacing justru menjadi sumber pendapatan.

Sejak menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Adam sudah punya niat berwirausaha. Namun niat itu terkubur lantaran tak menemukan ide usaha. Adam pun memutuskan menjadi karyawan di sebuah pabrik kertas. Selama sepuluh tahun, Adam bekerja di PT Tjiwi Kimia, di Mojokerto, Jawa Timur.

Baru pada 2010 dia meninggalkan pekerjaan itu. “Menurut saya, kalau bekerja di perusahaan, seseorang susah berkembang karena harus berhadapan dengan batasan dari sistem perusahaan tersebut. Sementara di luar begitu banyak peluang yang menanti,” ujar lelaki berusia 39 tahun ini.

Adam pun memantapkan diri untuk memulai usaha sendiri. Ia kembali ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, pada awal 2010 dan memilih agribisnis dengan menggeluti budidaya belut yang sedang ngetren kala itu. Adam menggelontorkan modal sebesar Rp 20 juta, termasuk untuk membeli sekitar dua kuintal belut.

Namun, Adam tak menyangka, banyak kendala dalam beternak belut. Sejak awal, ia sering mendapati belut-belut itu mati. “Pokoknya, sulit sekali bagi saya untuk membudidayakan belut sehingga hanya enam bulan saya beternak belut,” kata dia. Padahal Adam sudah ikut berbagai seminar mengenai pembiakan belut.

Yang tersisa hanyalah pakan belut, yakni cacing tanah sebanyak empat kilogram. Dia mengamati, ketika semua belutnya mati, cacing-cacing itu tetap bertahan, bahkan, berkembang. Dari situlah Adam mendapat ide untuk membudidayakan cacing yang memiliki nama latin Lumbricus rubellus.

Tepatnya, pada Agustus 2010, Adam mulai membiakkan cacing tanah. Sebelumnya, dia mempelajari seluk-beluk budidaya cacing tanah. Selain membaca buku, Adam juga belajar secara autodidak dengan praktik langsung di lapangan.

Dengan modal Rp 200.000, ayah seorang anak ini membeli indukan cacing. Selanjutnya, untuk media, dia membeli kotak kayu ukuran 40 cm x 50 cm yang ditumpuk hingga 12 tingkat. Jadi, Adam tak perlu lahan yang terlalu luas.

Adam tak perlu membeli makanan cacing. Cacing bisa diberi makan dari limbah rumahtangga maupun limbah pasar. Ia mengolah limbah dari para tetangganya untuk dijadikan pakan cacing. “Cara membudidayakan cacing memang sangat mudah. Makanya saya tertarik dan tak pernah berpikir untuk berhenti sampai sekarang,” tutur dia.

Bapak cacing

Adam mengaku, ketika mulai merintis budidaya cacing, dia belum mendapatkan pasar sama sekali. Hingga pada akhir 2010, dia mendapat titik terang. Seorang pemilik tempat pemancingan mendatangi peternakannya untuk memesan cacing.

Dulu, Rumah Cacing, nama peternakan cacing milik Adam, hanya bisa memproduksi lima kilogram cacing per minggu. Akan tetapi, kini, dia bisa memproduksi hingga tujuh ton cacing tanah per bulan. Omzetnya pun meningkat pesat. Dalam sebulan Adam bisa mengantongi sekitar Rp 300 juta.

Adam bilang, ia butuh proses cukup panjang untuk bisa menemui kesuksesan seperti saat ini. Setelah memasok cacing untuk beberapa tempat pemancingan di Malang, Adam semakin giat meningkatkan produksi. Nama Adam pun mulai dikenal penduduk Malang. Ia bahkan disebut-sebut orang sebagai Bapak Cacing.

Pada 2011 ia mendapat order untuk memasok cacing oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Sayang, Adam belum bisa langsung menyanggupi. Pasalnya, produksi cacingnya per bulan belum mencapai satu ton, seperti permintaan Dinas Perikanan itu.

Tak hilang akal, Adam menularkan ilmunya ke orang lain. Dia melakukan sosialisasi soal cacing ke masyarakat di sekitar Malang, sekaligus mengajak mereka untuk ikut membudidayakan cacing. “Saya ajak mereka untuk datang ke Rumah Cacing, lalu saya ajari cara beternak cacing,” ucap dia.

Di awal, usaha ini belum berbuah banyak. Hanya ada dua orang yang mau bergabung dengan Adam. Lalu, Adam mengembangkan sistem plasma dengan lebih terkoordinasi. Dengan sistem plasma, siapa pun yang bergabung akan mendapat pelatihan dari Rumah Cacing. Selanjutnya, Adam akan membeli hasil panen cacing dari anggota plasma.

Sampai saat ini, Adam sudah memiliki sekitar 1.600 anggota plasma. Namun, tidak semua anggota bisa konsisten memasok cacing padanya. “Dari keseluruhan jumlah anggota, sekitar 700 orang aktif menjual hasil panennya pada saya,” kata dia.

Suami Heni Nur Rahmania ini bilang, dalam sehari bisa disambangi sekitar 100 orang yang ingin belajar budidaya cacing. Adam menuturkan, budidaya cacing sebenarnya sangat gampang. Lagipula tingkat keberhasilan budidaya cacing hampir 100 persen. Hanya, informasi mengenai peluang budidaya cacing masih tergolong sedikit.

Sejauh ini, Adam tak menemukan penyakit atau hama yang mengganggu pertumbuhan cacing. “Kalau sudah tahu peluang usahanya pasti tertarik karena mudah,” tandas dia.

Selain mengandalkan pasokan dari anggota plasma, Adam pun masih terus memproduksi cacing. Bedanya, sekarang ia sudah memperkerjakan delapan orang karyawan. Kandang cacing pun sudah tak menggunakan kotak kayu lagi. Adam membangun 100 kolam yang dibuat dari batubata. Sekarang, Adam jadi pemasok utama cacing tanah untuk Dinas Perikanan Provinsi Jatim. Ia juga masih melayani penjualan kepada para pemilik usaha pemancingan dan pengusaha perikanan.  

Pengusaha tak bisa berhenti
Menanggalkan status  karyawan di perusahaan besar bukan hal mudah bagi Abdul Azis Adam Maulida. Kedua orangtuanya sempat menentang. Maklum, mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Jadi ketika Adam mengungkapkan keinginan untuk menjadi pengusaha, langsung tak mendapat respons baik dari orangtuanya.

Namun tekad Adam sudah bulat, meski dia sadar, usahanya tak langsung besar dalam sehari. “Setidaknya saya keluar dari sistem perusahaan dan bisa menciptakan sistem saya sendiri dengan potensi yang saya punya,” tutur Adam.

Dia berpesan, pengusaha harus terus berkembang. Tak ada lagi batasan yang menghalangi untuk berkembang selain diri sendiri. “Pelajari dulu peluang usaha. Kalau memang bagus, terus kembangkan, jangan berhenti karena pengusaha tak boleh mandek,” tegasnya.

Adam menegaskan peluang berbudidaya cacing masih sangat terbuka. Pembeli cacing sangat beragam, mulai pengusaha perikanan, peternak unggas hingga industri kosmetik dan farmasi. Tahun ini, Adam ingin menyasar industri farmasi. Namun, dia ingin membenahi produksinya sebelum memasok pasar baru. “Saya akan menambah anggota plasma untuk mendongkrak produksi,” ucap dia.

Adam menambahkan, dari budidaya cacing, ia bisa mengembangkan banyak potensi bisnis yang lainnya. Sejauh ini, Adam sudah merintis berbagai usaha yang masih berhubungan dengan bisnis utamanya. Misalnya saja, kebun jahe organik yang dikembangkan dengan pupuk dari kotoran cacing.

Selain itu, dia memiliki peternakan kambing, ayam, dan empang ikan yang akan mengonsumsi cacing untuk penggemukan. “Saya ingin kembangkan lebih banyak lagi dan saya juga memotivasi anggota plasma untuk sama-sama berkembang,” ungkap dia.
Continue lendo

Industri Kuliner Sangat Strategis bagi Perekonomian Indonesia

Sektor pariwisata berperan besar bagi perekonomian nasional. Salah satu sektor di dalam pariwisata yang menyumbang pemasukan terbesar untuk negara ini adalah industri kuliner.

Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dadang Rizki Ratman. "Kita harus menyediakan makanan dan minuman bagi para wisatawan. Dalam menyediakan makanan dan minuman, apa yang bisa dihidangkan sebagai makanan khas Indonesia? Kuliner bisa jadi citra pariwisata Indonesia," ujar Dadang.

Dalam sambutannya, Dadang menyebutkan bahwa dari data Badan Pusat Statistik, pada 2013 terdapat 8,8 juta wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Indonesia. Pada tahun yang sama, sektor pariwisata menyumbang 4 persen pos nasional, dan penerimaan devisa meningkat 9,8 persen mencapai 10 miliar dollar AS.

Sektor yang sama juga menyumbangkan 10,13 juta kesempatan kerja langsung dan tidak langsung di Tanah Ait. Selain bidang jasa berupa pelayanan akomodasi yang meliputi hotel, sarana transportasi, dan hiburan, ada pula industri makanan atau kuliner.

Industri inilah yang seringkali terlupakan. Padahal, menurut Dadang, semua wisman pasti membutuhkan makanan. Pembelanjaan para wisman pasti terserap di sektor ini. Data Kemenparekraf menunjukkan, wisata kuliner mengkontribusikan sekitar 25 persen dari perekonomian beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Kanada. Sementara itu, di Indonesia sendiri kontribusi sektor kuliner terhadap PDRB Indonesia tahun 2013 mencapai Rp 209 triliun.

"Kuliner merupakan sub-sektor ekonomi kreatif ke-15 yang dikembangkan sebagai produk unggulan agar menjadi daya tarik pariwisata sekaligus menjadi citra dan identitas bangsa," imbuhnya.

Hal inilah yang mendorong Kemenparekraf mencanangkan 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI). Ikon tersebut, menurut Dadang, akan menjadi platform pengembangan kuliner Indonesia. Pemerintah juga berencana mengeluarkan Cetak Biru Industri Kreatif. Termasuk kuliner sebagai salah satu sub-sektornya.
Continue lendo

Modal Pengetahuan Lebih Dibutuhkan Daripada Modal Uang

Kesulitan mengembangkan usaha kecil menengah (UKM) karena ketidaktersediaan modal ternyata tidak sepenuhnya benar.

"Hasil riset kami di lapangan, lebih dari 60 persen masalah UMKM itu knowledge, pengetahuan. Kalau mereka bilang ke kami masalah utamanya modal, begitu kami cek ternyata knowledge," ujar  CEO Smartplus Consulting, Yuszak M Yahya.

Yuszak menyatakan, tidak jarang dia bertemu dengan para wirausahawan pemula yang mengeluh tidak memiliki modal cukup untuk mengembangkan usahanya. Ternyata, yang mereka butuhkan bukan modal namun informasi dan pengetahuan mengenai cara mengembangkan usaha.

"Sudah sering, bilangnya modal, begitu kami perbaiki ternyata benar, bagus tanpa kita suntik modal," imbuhnya.

Hal serupa disampaikan pula oleh Dewan Pembina Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Mandiri, Budi Satria Isman. Nama Budi selama ini sudah dikenal sebagai sosok yang terlibat dalam perusahaan-perusahaan besar, seperti Coca Cola, Danone, dan Sari Husada Bakti. Namun, kini Budi berkonsentrasi membantu para wirausahawan baru.

Budi bercerita, dia telah berhasil melatih dan membekali para wirausahawan tanpa membutuhkan biaya besar. Di sisi lain, dia juga mengungkapkan bahwa pemerintah sudah mengeluarkan anggaran dalam jumlah besar untuk melakukan hal serupa.

"Ada 12 kementerian yang terlibat dalam UMKM, itu triliunan duit yang keluar. Kami gak kebayang, pengalaman kami selama ini kita bina dengan coba ber-partner dengan Coca-Cola, kemudian Adira, kemudian ada beberapa pihak Pemda, kami bisa membina selama enam bulan dengan biaya hanya Rp 600.000 per UKM," ujar Budi.

Menurut Budi, dia dan tim mampu menyediakan pendidikan, bengkel kerja, memberikan pengetahuan, serta pelatihan tanpa menitikberatkan kebutuhan pada anggaran besar. Salah satu hal yang penting, menurut Budi, adalah mencari pasar bagi produk UKM tersebut.
Continue lendo

Untung Ratusan Juta Dari Ban Bekas

"Kreatifitas itu tidak boleh mati". Semboyan itulah yang memotivasi Usman (37 tahun), seorang pria yang menghasilkan puluhan kursi cantik dan awet dari ban bekas, setiap harinya.

Usaha rintisan bapaknya di tahun 1980-an itu, kini semakin berkembang besar, dengan dua puluh lima karyawan, dan pengiriman ratusan buah ke luar pulau jawa tiap bulannya.

Sebagian orang mungkin tak menyangka, kursi cantik dari ban bekas itu, berasal dari sini, di sebuah Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lokasi produksi yang tak jauh dari jalur utama Pantura, dan tepat di pinggir jalan ini, tampak seperti sebuah tukang loak. Meski sedikit kokoh, bangunan terkesan didirikan dengan bahan seadanya. Pintu masuknya terbuat dari seng, di sekelilingnya dipenuhi barang dan ban bekas.

Namun ternyata, setelah masuk, anda akan dikagetkan dengan tumpukan puluhan, bahkan ratusan ban bekas, yang berada di atas lahan sekitar satu hektar. Sebagian masih bahan mentah, sebagian sudah disulap menjadi kursi ban bekas yang cantik.

Di bagian depan, Usman membelah ban bekas menggunakan pisau yang sangat tajam. Di bagian tengah hingga paling belakang, belasan pekerjanya pula mengolah dan membuat kursi ban bekas.

Setiap minggu, Usman membeli ban bekas truk fuso yang berukuran sangat besar sejumlah 120 buah, dari Jakarta. Ia pula membeli ban bekas mobil truk, dan mobil biasa, untuk anyaman dan kreasi lainnya.

"Kebanyakan bahannya (ban bekas) dari Jakarta. Tapi ada juga dari daerah lain. Sekali beli, pakai truk fuso," jelas Usman di tengah aktivitasnya.

Usaha kursi dari ban bekas yang sedang dijalaninya itu, ternyata rintisan bapaknya, Yusuf, di tahun 1980an. Dari yang hanya ditemani dua orang pekerja, kini usaha ban bekas itu dipenuhi lima belas hingga dua puluh lima karyawan bila kejar target.

"Bahkan dahulu bapak memulai usahanya sejak masih merantau di Jakarta. Karena melihat banyak ban bekas berantakan, ia belajar merapihkan hingga bisa membuat kursi," kata Usman.

Dalam sehari, bapak yang baru dianugerahi dua anak, bersama lima belas pegawainya, dapat menghasilkan lima belas set, dengan jumlah satu setnya 4 kursi dan satu meja, dalam satu hari. "Dalam seminggu, kita bisa selesaikan sekitar 105 set, atau sebanyak 420 kursi, dan 105 meja, siap kirim," jelas Usman.

Dan yang cukup mengagumkan, ban bekas yang sudah disulap menjadi kursi cantik, kokoh, dan awet itu, biasa dikirim ke Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Timur (dahulu), dan beberapa daerah lainnya, dengan total sekitar 100 set setiap minggunya.

Satu set kursi ban bekas Usman jual seharga Rp 400.000. Dari pengiriman tiap minggunya, ia mendapat sekitar Rp 40.000.000. Dan dalam satu bulan, Usman dapat meraup untung sekitar Rp 160 juta.

Laba yang terbilang besar, dilihat dari jumlah modal pembelian ban bekas yang cukup murah, dan beberapa ban baru untuk di bagian permukaan. Ia hanya menambahkan ongkos transport, pengiriman barang, dan upah bagi 25 karyawan yang dibayar sesuai dengan tingkat kesulitannya.

"Meski ban bekas, tapi kalau bisa merajutnya, merapihkan, dan mempercanrtik, orang pun pasti tertarik. Apalagi kursi ini lebih jauh lebih awet ketimbang kursi kayu," jelas Usman.

Usman mengklaim, usaha rintisan bapaknya itu merupakan usaha kursi ban bekas tertua dan terbesar di Cirebon ketimbang yang lain. Sudah 34 tahun berdiri, Yusuf bersama Usman sudah menghidupi ekonomi masyarakat sekitar, dan tidak sedikit pemuda putus sekolah yang diberdayakan di usahanya.

Miliki (17 tahun) sudah sekitar tiga tahun bekerja membungkus sandaran tangan kursi ban bekas dengan busa dan kain. Pemuda yang putus sekolah saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengaku senang, lantaran satu hari ia bisa dapat upah sekitar Rp. 30.000 - Rp. 50.000 perhari.

"Lumayan bisa buat makan dan jajan sendiri. Ini lebih baik, daripada saya nganggur Mas," kata Miliki yang tinggal di Blok Kambuan, Desa Kambuan, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon.
Continue lendo

Dapatkan Ratusan Juta Dari Bisnis Sayuran

Jumlah penduduk yang mencapai 250 juta orang menjadikan Indonesia sebagai sebuah pasar yang menggiurkan. Dengan penduduk sebesar itu, tingkat konsumsi bahan pangan negeri ini juga tinggi. Kondisi ini yang membuka peluang bagus bagi usaha agrobisnis.

Meski jumlah petani di Indonesia sudah tak terhitung lagi jumlahnya, peluang usaha di bidang ini tidak pernah habis. Jika kompetisi berbisnis sayuran lokal sudah terlalu ketat, jangan khawatir, Anda bisa mencoba peluang baru untuk berbisnis sayuran jepang.

Tengok saja, pertumbuhan jumlah restoran dan swalayan khas Jepang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Dulu gerai yang menyajikan produk asal Negeri Matahari Terbit ini masih sangat terbatas. Namun kini, Anda bisa dengan mudah menemukan gerai-gerai seperti itu.

Melonjaknya permintaan sayuran jepang ini yang membuat Agus Ali Nurdin, pemilik Okiagaru Farm dan Kostaman, pemilik Yan’s Fruit, terjun sebagai pemasok sayuran jepang. Kedua pengusaha ini kompak menetapkan kenaikan permintaan sayuran jepang mencapai 20 persen saban tahun. Bukan hanya warga Jepang yang tinggal di Indonesia yang mereka incar, sebab masyarakat lokal pun menyukai kuliner khas jepang.

Agus dulunya merupakan petani padi di Cianjur. Pada 2008, dia mengikuti program pertukaran petani muda ke Jepang dari Kementerian Pertanian. Selama setahun tinggal di Negeri Sakura, Agus mempelajari cara bertanam padi dan jeruk.

Ketika kembali ke Tanah Air, Agus segera menjalin relasi dengan pengusaha kuliner jepang. Ia lantas memutuskan mendirikan Okiagaru Farm, yang kemudian memasok sayuran jepang ke berbagai restoran khas jepang. “Saya pilih komoditas sayuran karena permintaannya luar biasa banyak, mengingat maraknya restoran jepang di dalam negeri,” tutur dia.

Agus menjelaskan, pengusaha kuliner jepang dulu kerap mengimpor produk pertanian dari China. Namun, produk dari China tidak lagi disukai karena tingginya penggunaan bahan kimia di Negeri Tembok Raksasa itu. Dus, permintaan untuk sayuran jepang di dalam negeri pun kian menanjak.

Ia lantas menyewa lahan seluas 1,8 hektare (ha) di Cianjur dan 4 ha di Cipanas, Jawa Barat. Di lahan itu, Agus menanam sekitar 100 jenis sayuran. Sebanyak 50 persen merupakan sayuran asli Jepang, seperti kyuri (timun jepang), horenzo (bayam jepang), kabocha (labu jepang), satsumaimo (ubi jepang), zucchini, negi. Sementara sisanya merupakan sayuran lokal tapi dikonsumsi di restoran jepang. Jadi seluruh produk Okiagaru dipasok untuk restoran dan swalayan jepang.

Agus menyebutkan, restoran besar seperti Yoshinoya dan Sushi Tei telah menjadi pelanggannya. Selain itu, dia juga menyuplai sayuran untuk swalayan Cosmo di Jakarta dan Bandung. “Sebenarnya permintaan di luar kota sangat banyak, tapi kami belum bisa memproduksi sesuai permintaan itu,” kata Agus.

Adapun Kostaman secara tak sengaja memasok sayuran jepang. Kostaman pernah menjadi supir angkutan aneka sayuran segar untuk perusahaan asal Jepang di Bandung. Pengalaman jadi supir membuat dia akrab dengan pemilik swalayan.

Lantas, ketika terjadi krisis pasokan stroberi, Kostaman memberanikan terjun menyuplai stroberi ke beberapa swalayan. “Sejak saat itu saya alih profesi jadi pemasok stroberi dan sayuran-sayuran jepang ke swalayan,” ujar dia.

Ia pun mendirikan perusahaan Yan’s Fruit and Vegetables di Lembang, Jawa Barat, pada tahun 2000. Lantaran tak punya modal yang cukup untuk bercocok tanam, Kostaman menjalin kemitraan dengan petani sayuran di daerah Lembang.

Kostaman menyortir sayuran yang diproduksi mitranya, untuk dikemas sesuai permintaan klien. “Jadi, produk sayuran bisa langsung dipajang untuk dijual di supermarket atau swalayan,” ucap dia. Kini, Kostaman memasok lebih dari 100 jenis sayur ke swalayan di Jakarta.

Dalam sebulan, Kostaman memasok 65 ton sayuran jepang ke berbagai swalayan. Dia mengaku bisa meraup omzet Rp 600 juta per bulan dari usaha ini. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen.

Di sisi lain, Agus memisahkan antara omzet produksi dengan penjualan sayuran jepang. Menurut Agus, omzet produksi dihitung tiap komoditas per musim panen. Misalnya ada 20.000 pohon kyuri di lahannya. Jika tiap pohon menghasilkan 8 kilogram (kg) kyuri yang dijual Rp 10.000 per kg, ia mendapat omzet Rp 160 juta. Adapun laba bersihnya lebih dari 50 persen.

Sementara itu, produk sayuran yang ia jual bukan hanya berasal dari lahannya. Ia juga memasok sayuran dengan menjalin kerjasama dengan beberapa mitra di Jawa Barat. Untuk penjualan, Okiagaru bisa mengantongi omzet sekitar Rp 70 juta per bulan dengan laba bersih sekitar 20 persen.

Dua pilihan

Apakah Anda tertarik menggeluti bisnis ini? Anda bisa pilih membudidayakan sendiri seperti Agus di Okiagaru Farm atau jadi pemasok saja seperti yang dilakukan Kostaman. Apapun pilihan Anda, kunci utama kesuksesan usaha ini ialah mendapatkan pasar yang tepat.

Agus menegaskan, akses pasar adalah faktor utama untuk terjun ke bisnis sayuran jepang. Pasalnya, ongkos untuk memproduksi sayuran jepang tidak murah. Merunut pengalaman dulu, dia terlebih dulu mendapatkan pasar, baru memulai produksi, yang besarnya disesuaikan dengan permintaan.

Untuk mendapatkan akses ke pasar sayuran jepang, tentu saja Anda harus mengenal jaringan pengusaha kuliner atau swalayan jepang. Lantaran pernah ikut program pertukaran petani ke Jepang, Agus sudah punya relasi dengan beberapa pemain di bisnis kuliner atau retail yang membutuhkan pasokan sayuran jepang. Dengan adanya permintaan dari pasar, Agus juga bisa menentukan pola tanam. Pasalnya, sayuran jepang butuh waktu satu bulan hingga tiga bulan untuk panen.

Akan tetapi, Anda tak harus jauh-jauh ke Jepang untuk dapat relasi di bisnis ini. Agus menyarankan bagi pemula yang menggeluti usaha ini supaya bergaul dengan komunitas masyarakat Jepang.  Strategi ini bertujuan membuka celah untuk menembus pasar. “Membangun relasi bisa dimulai dari situ, telusuri akses yang membuat kita bisa mengenal para pengusaha yang selanjutnya bisa jadi klien kita,” tandasnya.

Yang tak boleh dilupakan adalah keterampilan berbahasa Jepang. Meski sepele, hal ini penting untuk bisa berkomunikasi dengan klien yang merupakan warga Jepang.  “Kemampuan berbahasa menjadi kelebihan untuk bernegosiasi dengan klien,” ujar dia.

Agus juga menegaskan pentingnya memiliki sumber daya manusia yang berpengalaman di bidang pertanian. Sebab,  jika hanya belajar pertanian secara teori belum tentu menguasai kondisi lapangan. “Kalaupun punya modal dan sudah ada pasar, tapi jika tidak ada ahli pertanian di lapangan, hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya. Minimal, ketika merintis usaha produksi sayuran Jepang, harus ada pendamping ahli di bidang pertanian sayuran.

Saat membuka lahan, Agus membutuhkan banyak karyawan, bahkan hingga 40 orang. Namun, untuk perawatan ta-naman sayuran, karyawan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Tiap hektare lahan diawasi tiga orang karyawan.

Selanjutnya, Agus mengatakan, modal untuk merintis lahan produksi sayuran jepang cukup mahal. Dus, kesiapan dana harus diperhatikan. Menurut Agus, penyewaan lahan, setidaknya, berlangsung selama tiga tahun dengan minimal lahan tiga ha. Hitungan sederhananya, investasi yang dikeluarkan berkisar Rp 80 juta per ha. Sebanyak 80 persen dari dana itu digunakan untuk membiayai operasional lahan. Sisanya untuk dana cadangan.

Pengeluaran pun dihitung per musim panen. Belanja terbesar untuk membeli benih, pupuk, dan pestisida. Benih bisa dibeli pada distributor benih yang mudah ditemukan. Biaya gaji karyawan juga termasuk pengeluaran besar yang harus dicermati. Dengan hitung-hitungan ini, Agus bilang, petani bisa mencapai titik impas usaha dalam dua tahun.

Jika tak mau menanam sendiri, Anda bisa jadi pemasok saja. Berhubung ketersediaan lahan yang terbatas, Kostaman memilih cara ini. Dengan modal  awal Rp 15 juta, ia merintis usaha memasok sayuran jepang ke berbagai swalayan.

Kostaman bermitra dengan lebih dari 60 petani di Jawa Barat. Para petani ini sepakat menyerahkan hasil panen sayuran jepang ke Kostaman. Selanjutnya, Kostaman menyortir sayuran ini sebelum dikemas. Proses penyortiran dilakukan secara manual. Sementara, pengemasan dibantu dengan mesin pembungkus plastik.

Selain untuk kedua proses itu, karyawan juga dibutuhkan untuk proses distribusi. Untuk kegiatan ini, Kostaman mempekerjakan 21 orang. Kostaman mengantarkan sayuran yang sudah dikemas ke gerai-gerai supermarket yang jadi langganannya. Pengiriman dilakukan tiga kali dalam seminggu, yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Jadi proses pengemasan dilakukan sehari sebelum pengiriman.

Sayuran jepang dikirim menggunakan empat armada mobil boks miliknya.  Tiap mobil bisa mengangkut sampai 1,5 ton sayuran jepang. Hingga kini ada sekitar 40 gerai swalayan yang mendapat pasokan sayuran Jepang dari Kostaman.

Kostaman mengaku tak pernah berpromosi selama jadi pemasok sayuran jepang. Kata dia, melalui produk yang ia jual, para klien mengenal kualitasnya. “Kalau sudah tahu kualitas, mereka pasti akan pesan pada saya,” ujar dia.

Sortir kualitas

Dalam memasok sayuran jepang, dikenal pengklasifikasian kualitas (grading). Grading ini ditentukan berdasarkan permintaan klien. Maklum, permintaan sayuran jepang untuk diolah di restoran dengan yang dijual di swalayan berbeda.

Agus bilang, pengusaha restoran biasanya minta sayuran dengan ukuran besar. Misalnya, untuk komoditas daikong atau lobak jepang, restoran butuh lobak seberat 1,5 kg. Sementara, untuk dijual di swalayan, lobak berukuran besar takkan laku. Lobak yang dijual di swalayan berukuran kecil jadi dalam 1 kg terdapat tiga hingga empat buah lobak.

Adapun Kostaman membagi sayuran jepang berdasarkan kualitas. Sayuran berkualitas bagus akan ia pasok ke swalayan. Sementara, sisanya akan dikembalikan pada para petani. Biasanya, petani akan menjual sayuran hasil sortiran itu ke pasar tradisional.  

Punya potensi tembus pasar ekspor

Peluang terbuka dalam usaha sayuran Jepang memang sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, para pelaku usaha sayuran jepang mengaku kewalahan memenuhi permintaan yang ada di pasar. Sebab, para petani belum bisa mengimbangi hasil panen dengan permintaan pasar.

Dengan kata lain mereka harus menghadapi kendala kontinuitas produksi sayuran. Salah satu risiko pada usaha agribisnis ini adalah panen yang kurang maksimal. Penyebab hasil panen tidak seperti perkiraan, biasanya adalah cuaca yang kurang bersahabat. Namun, menurut Agus Ali Nurdin, pemilik Okiagaru Farm, risiko bertanam sayuran jepang sebanding dengan risiko bertanam sayuran lainnya.

Padahal, baik Agus maupun Kostaman, pemilik Yan’s Fruit, mengatakan, pasar untuk sayuran jepang terbuka lebar. Permintaan pun tidak hanya ada di dalam negeri tapi juga untuk diekspor ke berbagai negara, terutama negara-negara Asia.

Agus bilang, ia pernah mendapat tawaran kerja sama dengan perusahaan asal Jepang. Permintaannya tidak main-main. Dalam sehari, Agus diminta memasok 15 ton brokoli. “Kami masih butuh investor untuk ikut membenamkan modal pada usaha ini,” ujar dia.

Kostaman pun punya pengalaman serupa. Namun ia belum berani menyanggupi karena produksi sayuran jepang mitranya belum konsisten. Terkadang hasil panen dari petani tak sesuai dengan permintaan pasar. “Potensi untuk ekspor sebetulnya ada, karena rekan saya sudah mengekspor zucchini, buncis, dan sayuran lain ke Singapura,” ujar dia.
Continue lendo

Sepeda Bambu Bogor Tembus Pasar Eropa dan Amerika


 

Apa yang menarik dari pohon bambu? Bagi sebagian orang, pohon bambu tidaklah begitu penting. Namun, ditangan sang maestro bambu, Jatnika, bambu dapat disulapnya menjadi sebuah karya bernilai tinggi. Adalah sepeda bambu, hasil karya tangan pria asal Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Tak tanggung-tanggung, sepeda buatannya itu mampu bersaing di industri kancah Internasional.

Saat ditemui rumah sekaligus workshopnya, di Perumahan Bumi Cibinong Endah, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Abah, panggilan akrabnya, sangat antusias membicarakan karya sepeda bambu buatannya itu. Tapi, dibalik kesuksesannya dalam membuat berbagai macam benda dari bambu, Abah merasa kecewa dan marah dengan kondisi saat ini yang tidak peduli dengan kearifan lokal.

"Pohon bambu sudah ada dari jaman dulu, bahkan negara kita merdeka berkat perjuangan rakyat Indonesia menggunakan senjata bambu runcing. Ditambah lagi, kualitas bambu di Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Namun, kenapa orang Indonesia sendiri tidak peka terhadap keadaan itu," ucap Abah.

Awal tercetus ide pembuatan sepeda bambu, kata Abah, karena merasa tertantang dengan negara lain yang sudah memproduksi sepeda bambu terlebih dahulu. "Masa negara lain sudah bisa membuat sepeda dari bambu, kenapa negara kita tidak bisa. Padahal jelas, di Indonesia banyak sekali tumbuh pohon bambu, dan itu kualitasnya sangat baik," ujarnya.

Untuk menghasilkan sepeda bambu yang kuat dan tahan lama, Abah harus terlebih dulu mencari jenis bambu yang cocok. Batang bambu yang digunakan merupakan bambu pilihan yang telah melewati proses seleksi dan pengawetan secara tradisional.

"Ada sekitar 21 ramuan herbal yang saya gunakan untuk merendam bambu selama tiga minggu. Kemduian barulah, dilakukan proses produksinya. Kira-kira untuk menghasilkan satu unit sepeda bambu siap pakai, butuh waktu pengerjaan sekitar sebulan lebih," kata dia.

Uniknya, dalam proses produksi, Abah mempercayakan kepada rekan-rekannya yang mempunyai background sebagai tenaga ahli dibidang industri pesawat terbang. "Soal perakitan, saya mempercayakan kepada teman-teman yang ahli dalam perakitan pesawat terbang," tuturnya.

Menurut ayah dari enam anak ini, keunggulan sepeda bambu buatannya selain memiliki karya seni tinggi, juga tidak mudah rusak karena pada batang bambu terdapat ribuan serat yang mempu menahan beban dan benturan.

Ada beragam jenis sepeda bambu buatannya, antara lain sepeda bambu fixie dan mountain bike. Untuk harganya, Abah membandrolnya antara Rp 10 juta sampai Rp 17 juta.

Namun, bagi anda yang tertarik harus bersabar dulu, karena sepeda bambu buatan Abah Jatnika belum dijual bebas di pasaran. "Saya belum berani lepas ke pasaran, kalau ada yang mau silahkan pesan, baru kami buatkan," jelasnya.




Dirinya berharap, semakin dikenalnya produk sepeda bambu di luar negeri, bisa meningkatkan gairah industri kreatif lainnya untuk go International. "Banyak potensi yang dimiliki bangsa ini, hanya masalahnya apakah kita berani atau tidak," pungkas Abah.


Hingga pasar Eropa dan Amerika
Jangan salah, walaupun terbuat dari bahan dasar bambu, karya Abah Jatnika sudah mencapai mencanegara. Bahkan, warga Amerika Serikat dan Eropa berbondong-bondong meminta pesanan sepeda bambu buatannya.

"Ada orang Amerika yang pesan. Lumayan lah, cukup banyak. Di Belgia pun juga sama, ada pesanan disana. Ini merupakan bukti bahwa produk Indonesia bisa bersaing di luar negeri," papar Abah Jatnika.

Selain menjadi seorang pengrajin bambu, Abah juga kerap menjadi pembicara di luar negeri untuk memperkenalkan bambu di kancah Internasional. "Justru banyak orang luar negeri, yang belajar ke Indonesia hanya untuk mempelajari bambu. Tapi kenapa orang Indonesia, justru cuek-cuek saja," cetusnya.



Continue lendo

Tambah Kaya Tanpa Tambah Pekerjaan

Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya, “Ryan menurut kamu, bila kamu membutuhkan uang seribu rupiah, lebih mudah mencari seribu rupiah atau berhemat seribu rupiah?”

Karena saya termasuk dalam kategori orang hemat (ini menurut teman-teman saya, sampai-sampai saya dijuluki Gober Bebek Muda), dengan cepat saya menjawab, “Lebih mudah berhemat seribu rupiah.” Teman saya pun mengiyakan jawaban saya.

Ya, meskipun sama-sama bernilai seribu, sering kali banyak orang berpikir bahwa bila kita merasa kurang, cari saja uang yang lebih banyak. Pertanyaannya sangat mudah, lalu kapankah Anda akan merasa cukup?

Manusia dilahirkan menjadi makhluk yang tidak mudah puas. Dalam kehidupan, dikenal sebutan ‘hal yang dibutuhkan’. Namun bukan hanya itu, ada juga ‘hal yang diinginkan'. Sekilas kedua hal ini tampaknya sama, tapi sebenarnya mereka adalah saudara jauh.

Dalam hidup, setidaknya kita pasti membutuhkan hal mendasar, dan di sekolah dasar kita mengenalnya sebagai kebutuhan primer. Salah satu contoh kebutuhan primer yaitu makanan (pangan).

Namun bila ditanya, “Ingin makan apa?” jawabannya bisa seribu satu macam, dan tentunya juga seribu satu harga , padahal kebutuhannya cuma satu. Makan untuk tetap hidup, tetap sehat, dan bisa melanjutkan hari esok. Artinya, keinginan manusia terhadap pemenuhan kebutuhan bisa sangat berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

Saya sangat puas dengan sepiring nasi dengan lauk tahu dan tempe, tapi ada orang lain yang kalau tidak makan tahu dan tempe dari restoran XYZ, tampaknya dia belum puas.

Seperti yang kita ketahui, meskipun sama-sama tahu tempe, tapi bila sudah masuk ke restoran, harganya pasti akan jauh lebih mahal. Kadang kita hanya terfokus untuk berusaha meningkatkan pendapatan agar bisa memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Alhasil, sebenarnya kita tidak bertambah kaya sama sekali, bahkan sebenarnya malah bertambah miskin!

Wah, bagaimana mungkin?

Begini sederhananya, masalah yang saya lihat dari teman-teman di sekitar saya yang bekerja adalah, mereka sangat membutuhkan pengakuan. Jadi, seiring dengan bertambahnya penghasilan atau meningkatnya jabatan , mereka perlu menunjukkan status jabatan dan penghasilannya, melalui penampilannya. Dan mereka membayar penampilan tersebut dengan harga yang jauh lebih mahal daripada kenaikan penghasilan dan jabatannya.

Jadi, bila hari ini kita merasa kekurangan, bisa saja sebenarnya Anda sudah cukup kaya. Anda hanya perlu melatih diri untuk mampu berhemat, bukan malah bekerja lebih keras untuk mencari uang. Uang adalah budak yang baik, tapi tuan yang amat buruk. Jadi, kita harus sangat berhati-hati dengannya.

Buatlah daftar pemasukan dan pengeluaran Anda. Mulailah melihat yang mana kebutuhan, dan mana yang keinginan. Gantilah keinginan Anda menjadi yang lebih murah, sesuatu yang dikenal dengan substitusi (penghematan), lalu hilangkanlah yang Anda anggap berbiaya besar (efisiensi) tapi tidak berdampak pada hidup Anda.

Selamat menjadi lebih kaya tanpa menambah pekerjaan dan penghasilan Anda. Hal ini sulit untuk dilakukan, namun ingatlah, kenikmatan sesaat biasanya akan membawa penderitaan jangka panjang.

Salam Investasi untuk Indonesia
Continue lendo

Ungkapkan Dengan Mustika

Wanita & Keluarga

Spiritual

 

Spirit Indonesia Copyright © 2011 | Template design by O Nana | Powered by SpiritIndonesia