Kiai Ageng Prawiropurba

Bagi peziarah berasal dari Jogya, makam itu beken dengan sebutan Pesarean Kiai Ageng Prawiropurba. Sejak tahun 70-an sudah banyak dikunjungi peziarah untuk memperoleh berkah gangsar rezeki. Sejalan dengan bergulirnya waktu, peziarah jadi lebih afdol menyebutnya untuk mendapatkan pelarisan. Tokoh ini adalah cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Tergolong makam yang memiliki aura istimewa di Jogya dan sekitarnya.

KALAU makam itu jadi tumpuan banyak peziarah, semata-mata hanya ingin mendapat berkah gangsar dalam mencari rezeki. Bukan tempat untuk mencari pesugihan atau semacamnya yang kadang-kadang harus dengan mengurbankan nyawa keluarga. Wajar bila hampir tiap hari selalu ramai peziarah yang ingin menyampaikan ujub. Makam Kiai Ageng Purba memiliki daya tarik tersendiri bagi wong cilik, karena semasa hidupnya, bangsawan ini suka membantu mereka yang mengalami kesusahan, terutama dari kalangan bawah.

Bangsawan ini menjadi berilmu tinggi setelah melakukan pengembaraan dan menjalani laku tapa selama hampir satu tahun. Mulanya Kiai Ageng Prawiropurbo tak memiliki ilmu apa pun. Ketika mengalami tragedi dengan meninggalnya isteri tercinta kemudian disusul putra tersayangnya, hidup Kiai Ageng Prawiropurba seolah menjadi hampa. Apalagi kedua orangtuanya ditawan Kompeni kemudian diasingkan di pulau Flores. Menghadapi kenyataan yang getir itu Kiai Ageng Prawiropurba lalu meninggalkan keraton untuk mengembara dan bertapa.

Setelah merasa mendapat cukup ilmu Kiai Ageng Prawiropurba lalu pulang ke keraton. Banyak orang mengetahui Ndara Purba saat itu berbeda dengan sebelumnya.
Selain digdaya juga jadi waskita. Semisal menebak pohon beringin depan Masjid Agung bakal roboh, tak lama kemudian nggak ada hujan dan angin pohon itu benar-benar tumbang.

Para pedagang di sepanjang Alun-alun Utara juga kerap mendapat berkah dari ilmu yang dimiliki Ndara Purba. Jika suatu saat dagangannya diambil Kyai Ageng tanpa dibayar, maka esoknya dagangan itu laris. Namun jika pedagang minta bayaran, alamat esoknya bangkrut.

Keluarga keraton merasa risih ketika Ndara Purba dinilai berlebihan dalam memperlihatkan kelebihan ilmunya. Maka lalu diusir dari Keraton Jogyakarta oleh Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono VII. “Diusirnya Kiai Ageng dari Keraton, bermula ketika memetik tanaman jeruk keprok kesayangan Sri Sultan. Meski kemudian dikembalikan lagi utuh seperti semula memakai ilmunya. Kelancangannya itu tidak terampuni. Beliau tetap disuruh pergi dari Keraton,” terang jurukunci Raden Mas Daroessalam.

Merasa bebas dari lingkungan Keraton, Kiai Ageng Purba justru makin bebas meluncaskan kebenciannya kepada Kompeni. Hampir setiap hari, dia mengganggu seradu Kompeni Belanda yang sedang berbaris di Alun-alun Utara. Bukan hanya itu, dia pun kerap menempeleng polisi yang sedang bertugas. Karena kelakuannya itu Kiai Ageng Purba ditangkap dan dipenjara di Wirogunan. Tapi malam harinya bisa lolos dari dalam penjara. Menariknya, selnya justru terisi Kepala Polisi Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1933, Kiai Ageng Purba meninggal karena usianya yang uzur. Saat pemakaman pun, kejadian ganjil masih saja ada. “Ketika akan dimasukkan ke liang lahat, tiba-tiba lubang kuburan dipenuhi air hingga meluber membasahi pakaian peziarah. Setelah dilakukan ‘dialog’ singkat oleh jurukunci makam dengan Kiai Ageng Purba, barulah air itu surut,” kata Daroessalam lagi.

Kini makam Kiai Ageng Purba banyak didatangi peziarah khususnya para pedagang dan bakul yang minta pelarisan. Apalagi pada malam Senin Legi, peziarah datang dari berbagai kota sekitar Jogyakarta.
Bukan hanya pelarisan ujub para peziarah, tapi juga kenaikan pangkat, penyembuhan penyakit. Sampai mencari nomor togel pun ada yang nekat memburu ke makam itu. “Kalau punya penyakit apa saja, setelah berdoa ambil dan minum air dalam kendi yang telah disediakan, kemungkinan bisa sembuh. Mereka yang minta nomor, biasanya harus bermalam hingga 3 hari. Jika pada malam terakhir muncul macan putih, maka pertanda akan datangnya rezeki,” sambung Daroessalam.

Tapi jika ujubnya ditolak, biasanya kembang yang dibawa peziarah akan tumpah atau jatuh dengan sendirinya. Hal ini seperti yang terjadi sewaktu seorang putri penggede melakukan ziarah beberapa tahun lalu. Tiba-tiba kembang yang ditaburkan di atas pusara, menyibak ke samping. “Itu pertanda ujubnya ditolak. Setelah kembangnya jatuh tak beraturan, beberapa minggu kemudian ibunya meninggal” jelas Daroessalam.

Makam Kiai Ageng Prawiropurbo terletak di Tahunan, diberi nama makam Karang Kebolotan Tahunan. Peziarahnya tidak hanya dari kalangan rakyat biasa saja, namun kerabat keraton serta pejabat tinggi negara pun hampir tiap tahun menyempatkan diri berziarah.

Spiritual

Pasang Iklan

HUBUNGI 0857 2814 9599
Atau KlikDisini !
 

Spirit Indonesia Copyright © 2011 | Template design by O Nana | Powered by SpiritIndonesia